CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Dedi Purbianto bin Zainal terdakwa pembunuhan Deli Cinta BR Sihombing didakwa hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mega Tri Astuti, dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (9/5/2108).
Dalam sidang dengan agenda dakwaan itu dipimpin Hakim Reni ltua Ambarita dengan anggota Majelis Hakim Egi Novita dan Taufik Abdul Halim Nainggolan. Sementara bertindak sebagai JPU, Jaksa Mega Tri Astuti dan terdakwa Dedi Pubrianto hadir didampingi penasihat hukum (PH) Tambrin.
Dalam dakwaan JPU, peristiwa itu berawal dari terdakwa Dedi Pubrianto mengenal korban Deli Cinta pada November 2017 melalui obrolan aplikasi di perangkat handphone.
Dedi memperkenalkan diri sebagai pelayan seks (gigolo). Karena sering melakukan percakapan melalui perangkat handphone tersebut, akhir November 2017 Dedi dan korban sepakat untuk bertemu di Hotel Nagoya Inn.
Kemudian setelah bertemu Dedi dan Deli Cinta masuk ke dalam kamar hotel. Selanjutnya terdakwa menyampaikan kepada korban bahwa tarif melayani seks sebesar Rp 1.500.000.
“Korban menyetujui tarif tersebut dan setelah terdakwa melayani seks kepadanya, lalu Deli memberikan uang sebesar Rp 200 ribu,” kata Jaksa Mega Tri Astuti membacakan isi dakwaan.
Saat itu Dedi tidak terima karena tarif tidak sesuai dengan kesepakatan awal dan akhirnya korban meyakinkan terdakwa akan membayar kekurangannya pada pertemuan selanjutnya. Akhirnya Dedi pun menyetujuinya.
Kemudian pada 19 Desember 2017 Dedi menghubungi korban menanyakan kekurangan sisa tarif yang telah disepakati. Seterusnya Deli Cinta mengajak Dedi bertemu di hotel Blitz.
Pada Rabu (20/12/2017) sekira pukul 01.00 WIB di Blizts Hotel Tunas Batu Aji, Dedi dijemput oleh korban, lalu pergi ke rumah Deli Cinta di Perumahan Central Raya Blok EE 8 No.12 A Kelurahan Tanjung Uncang Kecamatan Batu Aji.
“Sesampainya di rumah korban tersebut Dedi mengobrol sambil merokok dan makan mie yang di buatkan oleh Deli Cinta. Setelah itu terdakwa berhubungan seks sebanyak dua kali dengan korban, sampai akhirnya selesai sekira pukul 05.00 WIB,” ujar Jaksa Mega.
Setelah terdakwa melayani hubungan seks dengan korban, Dedi meminta apa yang di janjikan oleh Deli Cinta yaitu pembayaran sebesar Rp 1.500.000, sebelumnya.
“Kemudian terdakwa cekcok dengan korban, dan terdakwa meminta uang tersebut dan korban mengatakan, ngak nampak mata kau, belum pakai celana aku,” kata JPU menirukan percakapan terdakwa dalam dakwaan.
Mendengar perkataan Dedi itu, Deli Cinta pun menjawabnya dengan bercanda.
“Pasang lah celana kak, buatkan aku kopi atau teh lah,” kata JPU membacakan dakwaan.
“Selanjutnya dijawab Dedi, Kau buat sendiri sana, pulang ajalah a****. Deli pun berkata dengan nada keras kenapa jadi kayak gini, kenapa kakak marah gini,” ujar JPU.
Seterusnya, Deli Cinta marah dan mengucapkan perkataan yang kurang pantas, sehingga membuat Dedi marah.
Saat itu posisi Deli Cinta duduk bersila di kasur, langsung Dedi mencekik korban dengan menggunakan kedua tangan. Karena cekikan terdakwa, badan Deli Cinta termundur, seterusnya Dedi berusaha mengambil apa yang ada di sekitar.
“Karena gerakan korban dan sewaktu itu Deli juga berkeringat membuat cekikan Dedi terlepas. Kemudian terdakwa mengapit korban dan posisi Deli yang separuh berbaring dan posisinya miring terdakwa menolak bahu korban. Kemudian korban jatuh ke kasur dengan posisi tengkurap, dan pada saat posisi korban tengkurap terdakwa kembali mencekik dengan menggunakan kedua tangannya,” kata JPU.
“Dengan cara tangan kanan mencekik leher korban, dan tangan kiri menekan tengkuk belakang sekuat-kuatnya sehingga muka Deli Cinta terbenam ke springbad, dan posisi lutut kaki kanan terdakwa menekan bahu korban selama kurang lebih 30 menit. Setelah korban benar-benar tidak bergerak lagi, baru terdakwa melepaskan cekikan dan tekanan tubuh Deli Cinta tersebut,” ujar Jaksa Mega.
Tedakwa melepaskan cekiknya, setelah mendengar dengkuran nafas Deli Cinta dalam posisi tengkurap. Karena terdakwa takut korban akan melakukan perlawanan, kemudian Dedi mengambil tali gorden, dan mengikat tangan korban, dengan posisi kebelakang punggung. Setelah itu terdakwa mengikat kaki korban.
Sekira pukul 08.00 WIB terdakwa mengambil handphone milik korban, dan mengambil TV LED yang terpasang di kamar dan dimasukkan ke dalam mobil Toyota Rush BP 1661 GI. Terdakwa lalu membawa mobil milik korban langsung menuju Bengkong untuk memesan plat nomor dan mengganti dengan BP 2 GI agar tidak terlacak oleh pihak kepolisian.
Hingga akhirnya terdakwa ditangkap pihak Kepolisian dengan barang bukti mobil Toyota Rush yang telah diganti plat nomornya yang saat itu berada dalam penguasaan terdakwa.
“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340, Pasal 339, Pasal 338 dan 365 ayat (3) KUHP. Ancamannya hukuman mati,” katanya. (*)
