CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhi hukuman 7 tahun penjara kepada terdakwa Indarti bin Sujono dalam perkara perlindungan anak yang menewaskan bayinya sendiri.
Dalam sidang yang digelar di PN Batam, Senin (16/4/2018), terdakwa Indarti terbukti membunuh anak kandungnya yang barus saja lahir. Selain dihukum penjara 7 tahun, Indarti juga didenda sebesar Rp 100 juta dengan subsider enam bulan kurungan penjara. Vonis Majelis Hakim PN Batam ini, lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut 9 tahun penjara.
“Terdakwa dengan sengaja melakukan tindakan yamg mengakibatkan bayinya meninggal. Ini berdasarkan bukti visum et repertum terhadap bayi dari terdakwa dengan nomor R/VER/33/XI/2017/Biddokes Rumah Sakit Bhayangkara Batam serta keterangan saksi,” kata Ketua Majelis Hakim Mangapul Manalu, membacakan amar putusan.
Dalam amar putusan itu, Majelis Hakim menjerat terdakwa dengan pasal 80 Ayat (3), (4) UU RI No.35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Usai mendegar vonis Majelis Hakim, terdakwa melalui penasihat hukum (PH)-nya menerima putusan hukuman sedangkan JPU nyatakan pikir-pikir.
Dalam sidang sebelumnya, diketahui pada 16 November 2017 sekira pukul 07.15 WIB terdakwa Indarti yang sedang hamil lebih kuramg 30 minggu merasakan sakit diperutnya. Terdakwa meminta Fina Hardianti, Dewi Nur untuk membawanya ke Klinik BIP Kawasan Industri Batamindo Kelurahan Muka Kuning Kecamatan Sungai Beduk Kota Batam dengan alasan sakit di bagian perutnya. Terdakwa beralsaan datang bulan (haid) yang tidak berhenti selama dua minggu berturut-turut.
Sesampainya di klinik terdakwa didudukan di kursi roda dan di dorong oleh Feri Fakhrurrizal yang merupakan Paramedic Klinik BIP. Kemudian pada saat melewati toilet wanita terdakwa minta untuk mampir ke toilet dengan alasan darah datang bulan (haid) sudah tembus.
Seterusnya terdakwa di papah oleh Fina Hardianti, Dewi Nur untuk masuk ke dalam toilet wanita, lalu terdakwa langsung mengunci pintu toilet dari dalam dan berjalan menuju kloset.
Seterusnya, terdakwa membuka celana pendek warna cokelat yang terdakwa gunakan sampai batas lutut, terdakwa lalu mengendan dengan posisi berdiri setengah jongkok dan pada saat itu terdakwa melihat kepala bayi yang diikuti dengan badannya keluar dari vagina terdakwa langsung terjatuh di lantai kamar mandi.
Terdakwa dengan posisi setengah jongkok mengangkat bayi dengan kedua tangannya dari lantai, lalu merasakan perut sakit kembali.
Pada saat terdakwa mengendan kembali, terdakwa melihat ari-ari bayi akan keluar, lalu menariknya secara paksa menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan terdakwa mencengkram leher bayi tersebut dengan sangat kuat.
Lalu mengambil bayi tersebut beserta ari-ari dengan kedua tangan terdakwa dan menggoyangkan badan untuk melepaskan celana pendek warna cokelat yang dipakainya. Ketika celana pendek warna cokelat tersebut terlepas, terdakwa meletakkan celana pendek tersebut di samping kloset dengan menggunakan kaki.
Lalu terdakwa meletakkan bayi tersebut beserta ari-ari nya di atas celana itu. Kemudian terdakwa dari dalam kamar mandi menanyakan apakah ada tempat sampah kepada Fina Hardianti dan Dewi Nur.
Pada saat diberitahukan ada tempat sampah terdakwa membuka setengah pintu kamar mandi dan menarik tempat sampah tersebut ke dalam kamar mandi.
Lalu terdakwa membungkus bayi beserta ari-arinya menggunakan celana cokelat dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
Selanjutnya terdakwa keluar dari kamar mandi wanita dan meletakkan tempat sampah tersebut di luar kamar mandi.
Sebab mati adalah kekerasan tumpul pada daerah leher yang mengakibatkan sumbatan pada pembuluh darah besar daerah leher dan saluran pernapasan bagian atas. Kekerasan tumpul pada daerah dada dan kepala secara tersendiri maupun bersama-sama juga memberikan andil terhadap proses kematian korban.
