CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Pemerintah Kota (Pemko) kembali melakukan langkah praktis dalam menanggulangi luapan air, yang semakin sering menggenangi di sekitar 60 titik rawan banjir di Batam.
Langkah tersebut dimulai, dengan cara pembenahan beberapa drainase atau aliran air yang ada di Batam. Pembenahan itu dilakukan dengan bantuan alat berat jenis excavator long arm, yang telah dibeli beberapa saat lalu.
Pengadaan alat tersebut dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Binamarga dan Sumber Air. Dari lima alat berat yang dibeli, salah satu diantaranya berjenis amfibi atau dapat bergerak diatas genangan air.
Seluruh armada yang dibeli tersebut langsung dikerahkan untuk mencegah dan menanggulangi banjir yang semakin sering menggenangi.
Satu-persatu, drainase dan sungai-sungai kecil yang ada di Batam mulai dikembalikan fungsinga. Mulai dari memperlebar, memperpanjang aliran, serta menambah ketinggian tanggul ditepian.
Salah satu lokasi yang saat ini tengah dilakukan perbaikan drainase, ialah di Kecamatan Batam Kota. Dengan langkah tersebut, Pemerintah berharap banjir tidak lagi terjadi. Namun, efektifkah langkah tersebut?
Sebagaimana diketahui, di pertengahan tahun 2017 ini, kota Batam semakin sering dilanda hujan lebat. Dampaknya, volume air kian meningkat dan akhirnya menggenangi berbagai lokasi.
Rumah, halaman, fasilitas umum, halte, jalan raya, sekolah, bahkan fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa wilayah Batam pun menjadi sasaran empuk genangan air yang mengalir, atau kerap disebut banjir.
Parahnya, dalam beberapa kesempatan saat hujan mengguyur, Batam kerap terendam. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 20 menit saja genangan air terus meninggi.
Saat ditelusuri lebih jauh, Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Batam, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Siap Siaga Bencana (PS2B), Zulkarnain menegaskan ada beberapa hal pemicu banjir di Batam.
“Pertama, curah hujan sangat tinggi,” ucapnya, Senin (29/5/2017) siang.

Peningkatan curah hujan memang diakui Zul menjadi faktor utama dan menjadi mata rantai utama dalam siklus banjir di Batam. Alasannya sederhana,dia menegaskan tanpa hujan deras Batam tak akan digenangi air.
Penyebab kedua, minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga aliran air (drainase, red) tetap bersih.
“Harusnya bebas sampah, tapi kebanyakan drainase malah mampet (tersumbat, red),” imbuhnya.
Penyumbatan ini juga diakuinya sebagai penyakit yang disebabkan sendiri oleh masyarakat dan sangat sulit dihilangkan. “(Masyarakat) Kebanyakan komen, tapi aksi minim,” cetusnya.
Penyebab ketiga dan yang paling fatal, lanjutnya, ialah tidak sesuainya fungsi atau peruntukan drainase yang ada di Batam. Bahkan, Zul mengaku sekitar 75 persen drainase di Batam tidak bekerja seperti harapan bersama, yakni mengalirkan air dan mencegah banjir.
Ketidakmampuan drainase dalam meredam luapan air, dituding menjadi faktor yang sangat memengaruhi. Pasalnya, setiap kali hujan turun kebanyakan luapan air berasal dari drainase yang terlihat tidak efektif mengalirkan air.
“Misalnya, perumahan A membangun di lahan A, dan di lahan B juga dibangun perumahan. Tapi, kedua lahan itu tidak sama rata. Ada perbedaan ketinggian,” paparnya.
“Nah, saat drainase dibuat, tentu ada perumahan yang akan terdampak luapan air karena ketinggian permukaan tanah yang berbeda. Inilah yang disebut-sebut menjadi kesalahan yang seolah sengaja diabaikan,” bebernya.
Untuk ruang terbuka hijau, masih katanya, juga menjadi kendala. Karena hanya beberapa persen saja ketersediaannya di tengah kota, sebagai media resapan air.
“Nah, itulah beberapa penyebabnya. Dan masih banyak penyebab lainnya. Ya, kita harap masyarakat dan pemerintah bisa bergabung untuk menuntaskan permasalahan yang ada. Agar setiap kali hujan, banjir tak lagi menghantui,” tutupnya.

