Indonesia berduka! Ledakan bom di tanah air mengguncang terminal di Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, pada Rabu (24/5/2017) sekira pukul 21.00 WIB. Tiga polisi gugur dan sebelas orang luka-luka. Dua terduga pengebom tewas seketika di lokasi.
Lagi-lagi polisi yang sedang bertugas menjadi korban bom. Pelaku sengaja menyasar polisi dan masyarakat di lokasi keramaian. Siapa aktor di balik teror bom yang selalu menyerang polisi? Berbagai jawaban ‘spekulasi’ muncul atas peristiwa memilukan ini. Beberapa pihak mengklaim dalang teror bom di tanah air berhubungan dengan kelompok garis keras.
Ada yang menyatakan teroris di Indonesia memiliki hubungan kuat dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Al Qaeda, atau jaringan teroris internasional lainnya. Meski demikian, kejahatan teror bom bunuh diri adalah musuh kita bersama. Terjalin atau tidak antara pengebom Kampung Melayu dengan kelompok yang ada bukanlah hal yang perlu diperdebatkan.
Di mana pun teroris berada, tujuan mereka adalah satu: menciptakan teror dan membunuh manusia dengan cara apa pun. Sebelum bom Kampung Melayu, kita masih ingat peristiwa sebelumnya, teror bom di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Januari 2017 lalu. Korbannya seorang polisi anggota Sat Gatur Ditlantas Polda Metro Jaya, Ipda Denny Mahie.
Sebelum tragedi bom di Jalan M. H. Thamrin, teror serupa dilakukan di Polres Banyumas, Jawa Tengah, pada Selasa (11/4/2017) sekitar pukul 10.10 WIB. Penyerangan terjadi di halaman Mapolres Banyumas dan tiga anggota yang menjadi korban yaitu Aiptu Ata Suparta, Bripka Irfan, dan Bripka Karsono. Kasus yang sama terjadi di halaman Polresta Surakarta, Jawa Tengah.
Bom meledak saat petugas sedang bersiap-siap menggelar apel pada Selasa (5/7/2016) pagi sekira pukul 7.35 WIB. Serangan bom kepada aparat kepolisian bisa dimaksudkan untuk menjatuhkan simbol pertahanan negara. Sebab kepolisian merupakan salah satu alat pertahanan negara yang kuat selain Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau alat negara lainnya.
Jika teroris selalu memberikan pesan seperti itu, tentu saja kita tidak boleh berdiam diri. Harus ada sebuah upaya perlawanan yang maksimal kepada teroris. Bukan berarti kita yang tidak menjadi simbol pertahanan negara akan aman dari serangan teroris. Sebab sasaran teroris sangat jelas yakni menghancurkan sendi-sendi peradaban negara dan merusak tatanan kedamaian yang ada.
Sebelum peristiwa bom di tanah air, Pemerintah Indonesia melalui badan atau lembaga khusus sudah menyosialisasikan bahaya kejahatan teroris. Kita diminta waspada dengan kehadiran mereka. Sebab keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat terkadang sulit terdeteksi. Aparat TNI/Polisi berulangkali mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika ada hal-hal yang dianggap mencurigakan.
Adalah menjadi sangat penting dan sebuah keharusan bagi kita untuk bersinergi melawan teror bom di tanah air. Masyarakat di bawah kendali perangkat RT dan RW harus kompak mendata keberadaan warganya. RT dan RW wajib tahu seluruh pekerjaan dan aktifitas warganya. Sehingga jika ada warga yang terindikasi dan dicurigai melakukan tindakan teror bisa segera diantisipasi.
Para aktifis sosial kemasyarakatan juga harus bekerja ekstra bahu-membahu dengan TNI/Polisi atau pihak-pihak yang terkait. Bertukar informasi untuk membangun sinergitas perlu digalakkan. Begitu juga selaku masyarakat yang hidup bertetangga harus peduli dengan keadaan lingkungan di sekelilingnya. Peran aktif kita sangat membantu mempersempit gerakan dan kiprah teroris.
Sudah bukan zamannya lagi berdiam diri (cuek) ketika seseorang berada lingkungannya masing-masing. Kita harus berperan aktif menciptakan kedamaian, kesejukan, dan keselarasan. Dengan menciptakan situasi yang aman dan damai diharapkan bisa menumbuhkan toleransi keberagaman dalam berbangsa dan bernegara. (Candra P. Pusponegoro/Pemimpin Redaksi https://centralbatam.co.id)

![[TAJUK] Teroris Adalah Musuh Kita Bersama](https://i0.wp.com/centralbatam.co.id/wp-content/uploads/2017/05/Ledakan-di-Kampung-Melayu-7.png?fit=672%2C402&ssl=1)