CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Penyu Belimbing, atau dalam bahasa ilmiahnya disebut Dermochelys Coriacea merupakan penyu dengan ukuran yang paling besar di dunia.
Dari 7 spesies penyu di dunia, penyu ini merupakan penyu yang paling kuat dalam sistem pertahanan hidup di alam.
Setelah melewati jutaan tantangan hidup selama jutaan, bahkan puluhan juta tahun. Kini, hidup si penyu belimbing ada diambang kepunahan. Ya, akibat maraknya perburuan liar dan perubahan iklim secara drastis, keberlangsungan hidup biota laut yang menghuni Indonesia ini nyaris menghilang dari muka bumi.
Diketahui, panjang tubuh penyu dewasa bisa mencapai 3 meter dengan bobot lebih dari 300 kilogram. Dengan ukuran itu, si penyu yang cangkangnya tampak seperti buah belimbing ini mampu menghasilkan telur sekitar 150 butir.
Namun sayang, dari jumlah telur yang nantinya akan menetas, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan hidup.
Dari 7 jenis penyu di dunia, 6 ada di Indonesia. Adapun diantaranya, ialah Penyu Belimbing (Dermochelys Coriacea), Penyu Hijau (Chelonia Mydas), Penyu Tempayan (Carreta caretta), Penyu Pipih (Natator Depressa), Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys Olivacea).
Keberadaan 6 jenis penyu di tanah air, termasuk penyu belimbing merupakan anugerah yang luar biasa. Namun, kekayaan fauna itu kini kritis dan nyaris kalah dengan kerasnya hidup.
Seperti yang dilakukan organisasi perlindungan hewan di dunia (WWF), penyu belimbing langsung dimasukkan dalam daftar hewan yang dilindungi.
“Penyu belimbing hanya datang dan bertelur di pantai Barat, Papua. Alangkah indahnya Indonesia,” tulis WWF di situs resminya.
Benar saja, Papua menjadi rumah persinggahan penyu belimbing untuk meletakkan telurnya. Karena peduli akan populasi yang semakin berkurang, masyarakat sekitar pun secara sukarela mengosongkan bibir pantai sekitar untuk dijadikan lokasi bertelur sang hewan langka itu.
“Pantai dikosongkan untuk habitat sang penyu,” tulis BBC.
Alangkah tragisnya bila penyu belimbing benar-benar punah. Sebab, keberadaannya sungguh penting. Mengapa?
Pertama, migrasi penyu sangat berperan menyebar kesuburan di laut. Kemudian, penyu kerap memakan sponge, yang merupakan hama bagi terumbu karang. Otomatis, penyu seakan menjaga keberadaan terumbu karang di dasar lautan.
Ketiga, penyu belimbing menjadi indikator penyedia pasokan ikan di laut dengan memakan ubur-ubur yang menjadi predator juvenil benih ikan.
Keempat, penyu memakan helai-helai lamun tua untuk mempermudah pertumbuhan lamun muda sebagai habitat perkembangbiakan ikan. Terakhir, kepunahan hanya akan mengganggu rantai makanan di laut.
Hal itu tentu sangat merugikan manusia, baik dari segi ketersediaan ikan dan komoditi laut lainnya.
Sudah selayaknya kita menjadi pelaku perlindungan satwa langka yang hampir punah. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) harus secepatnya mengambil langkah taktis untuk menjaga populasi sang penyu belimbing tetap terjaga.
Keterkaitan elemen pertahanan dan keamanan, yang bekerja sama dengan masyarakat juga amat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian alam, sebagai habitat sang penyu.
Jangan biarkan penyu belimbing punah, jangan biarka aset indonesia hilang perlahan. Mulai relokasi lingkungan sekitar, menjadi nyaman dan asri untuk menjaga keseimbangan alam tetap terjaga.

