CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN –Akhir-akhir ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) kembali menujukan kinerja kurang memuaskan. Pasalnya, akibat perusahaan yang harusnya pro rakyat tersebut sering mati dadakan tanpa sebab.
Kekurangan puasan masyarakat itu serinf kali menjadi bahan untuk status di media sosial Facebook, maupun bahan pembicaraan di kedai kopi.
“I Love PLN Bintan …krna udh melakukan pemadaman lama bngttt.. Cius jdi #Suntuk ..!!
Batre 5% .. Bak Mandi kosong…Setrikaan mengunung ..Love for ever PLN
Cukup deh #Deritaku ..,” tulis salah akun facebook Chichi Usman.
Kemudia pemilik akun Jong menulis “Ada apa dengan PLN BINTAN…kenapa mati…terus hidup…mati…terus hidup..mati lagi dan sampai skrng tdk hidup lagi…..apa kambuh lagi y penyakit nya..”
Sementara, beberapa warga yang sempat dimintai keterangan oleh centralbatam.co.id, mengaku tiap PLN mati mereka mengalami kerugia puluhan ribu. Pasalnya, barang-barang elektronik seperti komputer, dan TV.
“Sepengetahauan saya, tegangan listrik PLN normalnya adalah 220V dan berfluktasi dari 180V sampai 240V, jadi kadang-kadang ketika beban puncak bisa saja tegangan PLN turun menjadi 180V atau malah di bawah itu. Nah ketika beban ringan tegangan PLN bisa saja menjadi 240V atau malah diatas itu, dan ketika listrik hidup secara tiba2 biasanya tegangan yang ada pada jaringan PLN berkisar 240V atau lebih,” jelas salah satu warga Gunungkijang, Anton, Rabu (31/5).
“Jadi TV yang tidak memiliki regulator yang baik tentu saja tidak sanggup menerimanya, akibatnya regulator TV rusak, dan biasanya TV menjadi mati total. Kalau sudah mati total kan ujung-ujungnya beli baru. Kan rugi berapa ratus ribu lagi,” kesalnya.
Sementara salah pemilik kedia kopi di batu 16, Asiong mengatakan setiap kali PLN mati ia kehilangan banyak pelanggan. Pasalnya, setiap kali PLN mati secara otomatis jaringan wifi di kedainya menjadi mati.
“Sekarang ini pelanggan datang ke kedai karena wifi. Terus kalau PLN mati wifi juga mati. Ya mereka pergi,” kata Asiong.
Asiong menambahkan, tiap kali PLN mati ia memperkirakan kerugian materi hingga Rp 50 ribu. Sebab untuk setiap pelanggan yang duduk setidaknya minuman 1 gelas kopi dengan harga Rp 5 ribu per cangkir.
Masih jelas Asiong, jika PLN mati ia mengaku kehilangan minimal 10 pelanggan. Dari 10 pelanggan itu katanya total kerugian Rp 50 ribu dari Rp 5 per pelanggan.
“Mati lampu kita rugi gak bisa nuntut PLN. Tapi telat 1 hari saja bayar PLN kita di datangi orang PLN. Ini kan tidak adil,” keluhnya.
Sementara, belum ada pihak PLN yang dapat dihubungi terkait hal ini. Meskipun sore ini listrik kembali mati, namun pihak PLN dinilai santai dan tak pernah peduli penderitaan masyarkat penggiat UKM. Karena setiap kali listrik mati, pihak PLN jarang menanggapi keluhan yang datang.

