CENTRALBATAM.CO.ID, NATUNA – Tragedi kecelakaan yang terjadi di Jembatan Silas, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, menyisakan kisah pilu bagi keluarga korban.
Di balik peristiwa yang merenggut dua nyawa anak-anak itu, tersimpan cerita tentang seorang remaja yang dikenal rajin bekerja dan penuh tanggung jawab.
Remaja tersebut adalah MS (15), yang akrab disapa Ateh oleh keluarga.
Ia bukan sekadar pelajar biasa, melainkan anak bungsu dari lima bersaudara yang selama ini ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kepergian Ateh dalam kecelakaan tunggal yang terjadi pada Kamis (26/3/2026) pagi menjadi pukulan berat bagi keluarga, terutama bagi sang ibu Salbiah (49) yang selamat dari insiden tersebut.
“Yang meninggal itu anak saudara saya. Dia masih kelas IX di SMP Setengar, sebentar lagi sebenarnya mau tamat,” ujar Tari (33), adik ipar Salbiah, Jumat (27/3/2026).
Tari menuturkan, meski usianya masih muda, Ateh dikenal sebagai anak yang pendiam namun memiliki rasa tanggung jawab tinggi terhadap keluarganya.
Di sela-sela aktivitas sekolah, ia kerap membantu orang tua mencari penghasilan tambahan, terutama karena kondisi kesehatan ayahnya yang kurang baik.
“Dia anaknya baik dan tidak banyak tingkah. Kalau libur sekolah biasanya ikut membantu ekonomi keluarga. Kadang memancing, menyelam mencari gurita, atau ikut melaut bersama nelayan,” katanya.
Karena sikapnya itu, Ateh bahkan dianggap sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga meski usianya masih belia.
Kabar meninggalnya Ateh membuat keluarga terpukul. Peristiwa tersebut terjadi secara mendadak sehingga meninggalkan rasa syok mendalam bagi kerabat.
“Kami semua masih tidak percaya. Begitu dapat kabar kecelakaan, keluarga langsung panik,” ungkap Tari.
Menurutnya, sebelum kejadian itu keluarga sebenarnya berencana melakukan perjalanan ke Teluk Buton pada Jumat pagi. Namun Ateh bersikeras ingin berangkat lebih awal pada Kamis.
“Memang sudah lama direncanakan mau ke sana. Ibunya maunya berangkat Jumat, tapi dia yang ingin berangkat Kamis,” jelasnya.
Takdir berkata lain. Dalam perjalanan tersebut, sepeda motor yang dikendarai Ateh diduga kehilangan kendali hingga menabrak pagar pembatas Jembatan Silas di Desa Kelanga.
Kecelakaan itu tidak hanya merenggut nyawa Ateh. NU (6), seorang bocah perempuan yang merupakan keponakannya, juga meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Sementara Salbiah selamat, namun masih menjalani perawatan dalam kondisi kritis.
Suasana duka menyelimuti keluarga saat prosesi pemakaman kedua korban yang dilakukan pada Kamis sore.
Tangis pecah dari keluarga yang tak kuasa menahan kesedihan, terutama ibu dari NU.
“Ibunya sampai histeris. Wajar saja, anaknya masih kecil. Tahun ini rencananya mau masuk SD,” tutur Tari.
Hal senada disampaikan Fitri, cucu Salbiah lainnya. Ia mengenang Ateh sebagai sosok yang sederhana dan sangat dekat dengan keluarga.
“Dia paman saya. Kami biasa memanggilnya Ateh. Orangnya baik dan sangat peduli dengan keluarga,” ujarnya.
Dua korban kecelakaan tersebut akhirnya dimakamkan di Teluk Depeh pada Kamis sore.
Prosesi pemakaman berlangsung haru, diiringi tangis keluarga serta warga yang turut mengantar keduanya ke peristirahatan terakhir.
Kini yang tersisa hanyalah kenangan tentang sosok Ateh, remaja sederhana yang telah menunjukkan tanggung jawab besar kepada keluarganya sejak usia muda.(herry)

