CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Grup Mitra Tapanuli tampaknya tidak main-main untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap budaya dan alam. Hal ini terbukti dengan berbagai kegiatan yang telah digelar beberapa saat lalu dan tentunya sangat positif.
Kali ini, Grup yang beranggotakan perantau dari Sumatera Utara (Sumut) itu tak ingin kehilangan momen baiknya. Ya, kegiatan serupa bakal kembali digelar.
Adapun hal positif yang akan dilakukan setiap anggota dalam grup itu ialah mengunjungi dan ikut serta dalam melestarikan budaya bernama ‘Horja Bius’ di daerah Tomok, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara.
Selain Horja Bius, grup itu juga bakal berkunjung ke situs budaya dan wisata ‘Rumah Hela’.
Nantinya, kegiatan tersebut bakal dipuncakkan dengan aksi menabur benih ikan jenis ikan mas, pora-pora dan ikan nila yang terbilang mulai langka keberadaannya di Danau vulkanik, Toba.
Kepedulian Mitra Tapanuli terhadap warisan budaya dan kelestarian lingkungan bukan tanpa sebab. Penyelenggaraan kegiatan itu ditujukan untuk menghidupkan kembali budaya Batak dan lingkungan hidup yang terkesan mulai luntur tersentuh oleh pesatnya kecanggihan zaman.
“Kegiatan itu kita gelar mulai pada Jumat (7/7/2017) mendatang,” kata Ketua panitia Mitra Tapanuli goes to Toba-Samosir (Tobasa, red), Ir. Tunggul Aritonang, Selasa (4/7/2017) siang.
“Adapun tujuannya, untuk lebih mengingatkan kita dan generasi muda agar lebih peduli dengan kearifan lokal budaya di tanah Batak. Selain itu, juga untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menjaga ekosistem, untuk memastikan keseimbangan hidup dengan alam tetap terjaga,” katanya lagi.
Sebelumnya, lanjut Tunggul, pihaknya juga telah menyelenggarakan kegiatan yang sama pada Juni 2016 lalu.
Saat itu, ratusan batang bibit pohon ditanami disepanjang pinggiran danau Toba nan indah. Beberapa tamu undangan dan pejabat sekitar disebut turut menghadiri dan mendukung terselenggaranya acara itu.
“Dan yang akan kita gelar ini, merupakan kegiatan yang kedua. Karena kita juga telah melakukan kegiatan yang sama namun berbeda aksi pada Juni tahun lalu,” imbuhnya.
Grup itu sendiri merupakan grup yang beranggotakan para pengusaha, kontraktor, jajaran pejabat dari DPRD Batam dan tokoh masyarakat.
“Kita bukan sekedar berlibur dan jalan-jalan untuk buang-buang uang. Tapi lebih bertitik fokus untuk pelestarian ekosistem dan budaya yang terkesan mulai luntur ditelan kemajuan zaman,” tandasnya.

