CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Di tengah kehidupan serba modern seperti saat ini, masih banyak kaum ibu yang sedang hamil percaya akan efek negatif jika ‘Ngidam-nya’ tidak dipenuhi.
Mulai dari persepsi anak ‘ileran’, tidak sempurna, serta berbagai mitos keanehan lainnya seakan menghantui jika kemauan sang ibu hamil tidak terpenuhi. Benarkah demikian?
Kali ini, tim Central Batam akan sedikit membahas perihal ‘Ngidam’ dan serangkaian mitos yang kerap disangkut-pautkan.โ
Sesungguhnya, fenomena ngidam adalah hal yang biasa terjadi pada kebanyakan ibu yang sedang mengandung. Ngidam terjadi di tiga bulan awal kehamilan.
Ngidam merupakan keinginan yang biasa diluapkan ibu hamil untuk dipenuhi, biasanya berupa makanan atau melakukan hal yang tak biasa.
โ
Biasanya ibu-ibu hamil akan meminta supaya keinginannya dipenuhi sebagai dalih jika tidak si anak yang dilahirkan akan ileran. Sebelum ngidam dituruti, sebaiknya perhatikan dulu apakah ngidam itu perlu dituruti.
โ
Sebenarnya, di dalam dunia kedokteran tidak ada istilah ngidam. Namun, ngidam lebih diartikan pada kondisi tubuh yang membutuhkan nutrisi.
Karena kebutuhan itu, maka tubuh memberitahu otak untuk merespon dan meminta kebutuhan tersebut melalui ngidam. Misalnya ibu hamil ingin makan buah, mungkin menandakan tubuh membutuhkan vitamin.
Ngidam lebih pada kondisi psikis di bawah alam sadar seorang ibu hamil yang menginginkan sesuatu untuk memberi kepuasan pada hati. Biasanya, ibu hamil yang ngidam hanya memerlukan kenyamanan dan kepuasan.
Misalnya ketika merasa kurang energi, ibu hamil ingin makan dalam porsi besar dan setelah mendapatkannya ia akan merasakan kepuasan. Atau ketika ibu hamil ingin mengelus kepala botak sang suami, itu hanya karena ingin mendapatkan kepuasan.
Meski sering dikatikan dengan mitos anak akan ileran jika keinginan ngidam ibu tidak dipenuhi, tapi secara ilmiah hal itu tidak ada hubungannya.
Kondisi kesehatan bayi dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi oleh sang ibu. Ngidam boleh saja dituruti, asalkan tidak membahayakan kesehatan ibu dan sang bayiโ.

