CENTRALBATAM.CO.ID, KARIMUN – Senja belum sepenuhnya turun ketika langkah Rosesita Ariffin, warga negara Singapura, menyusuri kawasan Wonosari Baran Barat, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun.
Tidak ada gemerlap pesta, tidak pula kemewahan perayaan tahun baru. Yang ada hanya senyum tulus, doa-doa kecil, dan pelukan hangat dari anak-anak yatim yang menyambutnya dengan penuh harap.
Perempuan asal Singapura itu memilih cara berbeda dalam menyambut pergantian tahun 2026.
Alih-alih merayakan dengan hingar bingar, ia justru datang jauh-jauh ke Kabupaten Karimun untuk berbagi kasih. Bagi Rosesita, inilah cara terbaik mensyukuri usia barunya yang genap 60 tahun pada 1 Januari 2026.

“Saya hanya ingin mengawali tahun dengan hal yang baik. Berbagi dengan anak-anak ini membuat hati saya jauh lebih tenang dan bahagia,” ucapnya lirih, sembari menatap anak-anak yang duduk rapi di hadapannya.
Kegiatan santunan itu digelar pada 29 Desember 2025. Suasananya sederhana, namun sarat makna.
Anak-anak yatim tampak antusias menerima bingkisan, sementara doa-doa dipanjatkan bersama, mengalir tulus tanpa sekat.
Bagi Rosesita, Karimun bukan sekadar tempat singgah. Ada ikatan emosional yang membuatnya kembali dan kembali lagi.
Ia percaya, kebahagiaan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan.
“Saya ingin mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada banyak orang yang peduli dan mendoakan masa depan mereka,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh warga setempat, Hakim Fisabililah, yang memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian Rosesita.
Menurutnya, apa yang dilakukan perempuan asal Singapura itu adalah contoh nyata nilai kemanusiaan yang melampaui batas negara.
“Di saat banyak orang merayakan tahun baru dengan pesta, beliau justru memilih berbagi dengan anak-anak yatim. Ini sangat menyentuh dan patut menjadi teladan,” ungkap Hakim.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini tidak hanya membawa kebahagiaan bagi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Doa pun dipanjatkan bersama, memohon keberkahan, kesehatan, serta harapan agar tahun 2026 membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua.
Di wajah anak-anak itu, tampak senyum yang mungkin sederhana, namun penuh makna.
Malam itu, tanpa kembang api dan sorak sorai, pergantian tahun terasa jauh lebih hangat. Sebab di Wonosari, kasih sayang telah menjadi perayaan yang sesungguhnya.(centralbatam/deka hartati)

