CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM– Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Kepri menggelar buka puasa bersama anak yatim piatu, Jumat (16/6/2017) malam. Puluhan anak yatim piatu tersebut datang dari tiga yayasan yang tersebar di kota Batam.
Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, ramadan tahun ini acara buka puasa bersama BMPD Kepri pun disertai kegiatan edukasi dan perlombaan bagi anak-anak yatim piatu.
“Ini acara rutin tiap tahun pimpinan bank, bersama stakeholder dan termasuk customer loyal masing-masing perbankan. Hanya saja tahun ini, kita tambahkan beberapa kegiatan, seperti lomba pidato anak bertemakan sukses bisnis,” tutur Ketua BMPD Kepri, Gusti Raizal Eka Putra.
Lewat lomba pidato bertema sukses bisnis tersebut, diharapkan dapat mengedukasi anak-anak. Edukasi yang dimaksudnya pun bukan sekedar anak-anak mendapatkan penjelasan mengenai sukses bisnis. Melainkan, anak-anak mencari sendiri pengertian sukses bisnis dan mampu membagikan pengetahuanya tersebut lewat pidato singkat.
“Kalau dengan pidato ini, otomatis si anak akan mencari sendiri materinya. Dia akan bertanya pada ustadznya, mencari lewat buku-buku, internet.โ Mereka akan mencari jawabannya sendiri, dan mencoba membagikannya ke orang lain,” tuturnya.
Selain lomba pidato, ada juga lomba mewarnai untuk anak-anak yatim piatu tingkat TK, juga lomba hapalan Al quran. Dalam momen buka puasa bersama tersebut pun diisi dengan ceramah yan dibawakan oleh DR. Muhammad Hidayat.
Penceramah yang juga sebagai Dewan Pengawas syariah BSM dan khatib tetap masjid Istana Presiden dan Wapres itu memberikan ceramah terkait pola puasa masyarakat kini yang sudah jauh dari yang dijalankan Nabi dahulu.
Menurutnya, โpuasa tak hanya dalam aspek ritual, tapi juga ada korelasinya dalam aspek ekonomi. Sesungguhnya puasa mengajarkan efisiensi, karena konsumsi turun. Harusnya investasi yang meningkat, karena konsumsi turun.
Namun sayangnya, jarang praktek puasa itu seperti yang diharapkan. Justru puasa membawa musibah inflasi. Publik service meninggi dan konsumsi bertambah.
“Di bulan ramadan, belanja malah meningkat dari satu troli jadi dua sampai tiga troli. Akhirnya mendorong inflasi. Kondisi ini malah membuat duafa menerima imbasnya. Kita harus bisa mengkoreksi cara ibadah kita,” tutur Muhammad Hidayat.
Padahal, dalam sepuluh hari terakhir, Nabi justru berbuka puasa dengan konsumsi yang sedikit. Sahurnya pun bahkan hanya dengan mengkonsumsi zam-zam dan beberapa butir firman.
“Beliau fokusย dalam ibadahnya. Bahkan digambarkan, berbeda dengan yang dikenal sebelumnya. Beliau tak banyak berkomunikasi. Rahasia ramadan, keistimewaan dan puncak keagungannya justru ada pada sepuluh hari terakhir. Insentif dari Allah diletakan pada hari-hari akhir ramadan. Oleh karena itulah diharapkan di akhir ramadan ini, frekuensi ibadahnya yan meningkat. Bukan belanjanya atau mudiknya saja,” tutur dia.

