CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Memasuki pertengahan April 2017, jumlah lapangan pekerjaan di kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau seolah menjadi ‘sebatang jarum dalam tumpukan jerami’. Ya, jumlahnya kian menciut jika dibandingkan dengan jumlah pencari kerja (pencaker) yang semakin menumpuk.
Bayangkan saja, berdasarkan data yang diperoleh tim Central Batam dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam diketahui bahwa jumlah tenaga kerja yang menganggur saat ini sekitar 24 ribu orang. Data ini diprediksi bertambah, lantaran adanya aksi 23 perusahaan di Batam yang secara serentak gulung tikar alias tutup.
Akibatnya, sekitar 889 pekerja dari 23 perusahaan yang tutup itu terpaksa dimuntahkan dalam wadah yang berstatus ‘pengangguran’. Tutupnya 23 perusahaan itu terang saja menambah panjang permasalahan yang ada. Pasalnya, jumlah lowongan pekerjaan semakin menipis.
Dengan fenomena yang kian memburuk ini, masyarakat Batam yang aktif bersosial media (Netizen) menyatakan bahwa angka harapan hidup di kota industri tersebut semakin anjlok dan berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif. Pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan pun masuk dalam rentetan aksi kriminal yang dapat ditimbulkan akibat minimnya lapangan pekerja.
“Pengangguran meraja-lela, kesenjangan sosial semakin kentara,” kicau Yoga, seorang pengguna akun twitter.
“Lapangan kerja semakin minim, sementara jumlah pencari kerja di Batam semakin banyak,” tulis netizen Batam lainnya.
Sementara, komentar paling tajam datang dari netizen dengan nama akun facebook Antonius Nainggolan. Dia menanggapi bahwa peningkatan jumlah pengangguran di Batam terjadi karena tidak mampunya pemerintah kota (Pemko) Batam dalam menanggulangi banyaknya pendatang yang hendak mencari peruntungan di Batam.
“Pemerintah tidak membatasi warga yang masuk ke Batam. Sedangkan lapangan kerja itu terbatas dibandingkan jumlah pelamarnya. Jelasnya, jangan nekat ke Batam bila tidak ada kejelasan,” tulis Antonius, dalam kolom komentar di sebuah grup sosial facebook di Batam.
“Yang mau cari kerja, jangan datang (ke Batam) kalau gak ada relasi. Bahaya ujung-ujungnya, hanya menambah banyak pengangguran nanti,” tulis netizen lainnya.
Wajar saja para netizen tersebut memaparkan berbagai pendapat yang maknanya sedikit keras. Ini dituding dengan semakin banyaknya jumlah pengangguran, meningkatnya pendatang, serta sangat minimnya lapangan pekerjaan. Belum lagi dengan tutupnya 23 perusahaan di Batam yang semakin menambah tinggi derajat kesenjangan sosial di kota, yang bentuk pulaunya menyerupai kepala kalajengking itu.

