CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Ratusan massa dari berbagai kalangan masyarakat kembali kecewa untuk kedua kalinya.
Setelah gagal bertemu Walikota Batam dan Wakilnya, sore tadi, sekitar pukul 16.00 WIB, Jumat (17/3/2017), massa yang menolak kenaikan tarif listrik Batam (TLB) ini juga gagal bertemu dengan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun di Gedung Graha Kepri.
“Pak Wali ga ada, Gubernur pun hilang entah kemana. Padahal surat sudah kita masukkan untuk memberitahukan aksi, sekaligus meminta waktu untuk bertemu,” teriak seorang orator, di depan gedung Graha Kepri, Batam Kota, Batam.
“Pimpinan kita sibuk sekali, sampai bertemu warganya sendiri pun enggan. Padahal, kita-kita juga yang memilih dia jadi pemimpin,” sindirnya.
Merasa semakin kesal, ratusan massa yang sejak awal membawa replika keranda jenazah bertuliskan ‘DPRD’ dan ‘Gubernur’ sontak berteriak dan membakar keranda tersebut.
Massa pun meletakkan replika tandu mayat itu tepat di depan pintu masuk kantor Gubernur Kepri di Batam itu. Tak hanya keranda, massa juga membawa beberapa lingkar ban bekas dan pemantik api.
Akan tetapi, aksi bakar-membakar itu sempat dilarang petugas kepolisian yang berjaga saat itu.
Petugas melarang, karena posisi bakaran tersebut merupakan akses lalulalang kendaraan para pegawai di kantor tersebut.
“Jangan, jangan bakar di sini. Nanti bahaya kalau pejabat dan petugas di dalam mau lewat,” tegas petugas.

Massa pun langsung memboikot ruas jalan di depan gedung itu dan membentangkan keranda, ban serta kertas bertuliskan ‘Gubernur’ lalu membakarnya.
“Inilah api kemarahan masyarakat. Memang Walikota dan Gubernur tak pernah peduli dengan nasib kita. Inilah simbol matinya kepedulian pemerintah kepada warganya. Dan kami, sebagai masyarakat, akan tetap melakukan perlawanan sampai tuntutan kami ditanggapi,” papar orator.
Kekecewaan ratusan massa ini bermula karena Walikota Batam, Rudi dan Wakilnya, Amsakar tak berada dilokasi.
Hanya ada beberapa staf dan pejabat di kubu Pemerintah Kota (Pemko) Batam lah bersedia turun dan menemui demonstran.
“Berhubung pak Wali dan Wakil ada kegiatan, maka kami diminta untuk menemui saudara-saudara sekalian,” kata pejabat Pemko Batam yang menemui massa.
Karena ketidak hadiran tersebutlah, kemudian ratusan massa kembali memanas dan menyebut bahwa Orang nomor 1 dan 2 di Batam itu ‘hilang’ dari tahtanya.
“Duh, pak Wali dan Wakilnya hilang. Padahal ini baru jam berapa, ini Gabut namanya. Pejabat makan gaji buta,” teriak orator saat itu.
Puluhan perwakilan massa yang saat itu dipertemukan dengan staf Pemko di ruang rapat, tersebut langsung ‘walk out’ setelah mengetahui kedua pimpinan pemerintahan tersebut tidak berada dilokasi.
“Kami sudah kirim surat sejak lama. Kami mau temui Walikota dan Wakilnya, bukan bertemu dengan penyampai pesan,” ungkap demonstran, sembari berjalan keluar meninggalan ruangan tersebut.
Di luar gedung itu, ratusan massa telah menanti hasil perundingan. Mengisi barisan depan, tampak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unrika Batam membentangkan spanduk berisikan kalimat penolakan kenaikan tarif listrik Batam (TLB) sebanyak 45,5 persen.
Mendengar hasil perundingan dari dalam ruang rapat yang tidak membuahkan hasil apapun, massa kembali bergejolak.
“Pak Wali hilang. Ayo kita ke kantor Graha Kepri saja, siapa tahu pak Gubernur juga menghilang dengan kedatangan kita,” cetus orator.
Benar saja, sesampainya massa di depan Graha Kepri, Gubernur juga tak berada di tempat. Massa pun memanas dan sempat memaksa masuk. Sebagai wujud kekecewaan, aksi bakar ban dan keranda pun dilakukan, di ruas jalan penuh lalulintas pengendara itu.
Sebelumnya, aksi ratusan massa ini mencuat dengan sikap Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang menyetujui kenaikan tarif listrik (TLB) sebanyak 45,5 persen.
Berang dengan sikap sang pemimpin Kepri yang dianggap tidak pro terhadap masyarakat, massa pun turun jalan.
Aksi tersebut merupakan kali kedua, yang meminta pemerintah pusat (Provinsi) maupun daerah (Batam) menggagalkan kenaikan TLB tersebut.

