CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) disebut-sebut memasuki fase banyak hujan, pada kondisi seperti ini curahnya bisa mencapai 40-50 mm/hari.
Menduduki posisi hujan ringan sampai dengan sedang, Kepri khususnya Batam bakal semakin sering diguyur hujan.
Guyuran tersebut disebut tidak dapat diprediksi, mengingat peningkatan penguapan dan semakin maraknya shearline (belokan angin) yang melanda.
Selain itu, luas wilayah yang terkena guyuran juga bervariasi. Bisa bersifat lokal, bahkan hujan yang menyeluruh.
Kondisi ini turut dibenarkan jajaran Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim, Batam. “Masuk masa banyak hujan. Ini karena peningkatan massa udara, hasil dari adanya shearline di wilayah Kepri,” kata petugas pengamat cuaca di kantor tersebut, Sabtu (20/5/2017) pagi.
Shearline, lanjutnya, merupakan suatu keadaan dimana Kepri, khususnya Batam dilalui angin yang kemudian mengalami peralihan arah tiba-tiba. Karenaya, angin yang banyak mengandung massa udara tersebut mengalami perubahan arah yang spontan, menjadikan langit sekitar kian mengalami penumpukan uap air alias massa udara.
“Inilah yang menyebabkan banyaknya curah hujan,” imbuhnya.
Oleh karenanya, petugas di tempat itu langsung mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati. “Dalam kondisi yang banyak hujan ini, bukan hanya kondisi lingkungan yang menjadi lembab. Petir dan angin kencang juga mewarnai, selain itu, dampak panjangnya seperti banjir dan tanah longsor juga menjadi ancaman tersembunyi yang patut diwaspadai,”
Dia menyebut, masa-masa seperti saat ini telah berlangsung sejak April dan diprediksi berakhir di penghujung Juni 2017 mendatang.
“Iya, kembali normal lagi nanti di akhir Juni. Dan saat itu pula, Kepri dan Indonesia pada umumnya masuk dalam kondisi pancaroba,” imbuhnya.
Pancaroba atau peralihan musim yang dimaksudkan petugas, ialah masa transisi dari fase banyak hujan menuju musim kemarau.
“Nah, karena di Batam tidak terlalu dipengaruhi oleh musim, maka (Kepri) hanya terkena dampak yang tidak terlalu besar. Kita tetap merasakan musim kemarau, dengan meningkatnya suhu udara. Dan kita hanya bisa merasakan dampak musim hujan, dengan mulai banyaknya hujan. Tapi lagi-lagi, ini bukan musim, tapi pengaruh kecilnya saja,” tandasnya.

