CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Pelabuhan Bongkar Muat Batuampar kini bisa dimaksimalkan hingga kapasitas 1,5 juta TEUs dengan lahan 10 hektare untuk terminal peti kemas.
Demikian disampaikan Staf Khusus Deputi III Badan Pengusahaan Kawasan Batam, Nasrul Amri saat menerima kunjungan kerja Anggota Komite II DPD RI, Djasarmen Purba.
Menurutnya, kondisi sekarang jika dimaksimalkan Batuampar mampu menampung 1,5 juta TEUs. Namun rata-rata per tahun baru menampung 500-600 ribu TEUs.
“Untuk tahun ini kami targetkan menampung 750 ribu TEUs, naik sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Angka tersebut sangat kecil mengingat volume kontainer yang melalui Selat Malaka mencapai 80-90 juta TEUs tiap tahun.
Kebanyakan kapal besar tersebut singgah di Malaysia dan Singapura.
“Secara umum Indonesia hanya mendapat lima persen saja. Termasuk yang masuk ke Batuampar. Ini sangat sedikit dibanding yang singah di Singapura dan Malaysia,” katanya.
Bila BP Batam ingin memaksimalkan yang ada, maka sarana bongkar muat harus diperbaharui agar prosesnya bisa lebih cepat sehingga lebih efisien.
“Kalau ada kapal pengangkut 2.000-3.000 TEUs maka proses bongkarnya juga akan sangat lama. Kalau dermaganya khususnya yang utara sudah bisa disandari kapal sebesar itu,” katanya.
Pengadaan crane pada dermaga utara, segera mungkin dilelang agar bisa digunakan untuk bongkar muat dengan waktu yang lebih cepat.
“Kami rasa sampai saat ini masih sesuai dengan rencana awal. Progress-nya terus ada, tinggal tunggu lelang saja,” ujarnya.
Sementara anggota DPD RI dari Kepri, Djasarmen Purba menilai Pelabuhan Batuampar belum mampu memanfaatkan banyaknya kapal yang melintas di Selat Malaka untuk singgah.
“Yang kami lihat seperti itu. Makanya kami datang untuk menanyakan kendalanya apa sehingga Batuampar belum mampu memanfaatkan peluang yang besar tersebut,” katanya.
Dia mengatakan akan menyampaikan penjelasan BP Batam kepada Kepala Staf Presiden agar bisa ditindaklanjuti oleh Kepala Negara.
“Infrastrukturnya memang harus terus dibangun agar Batuampar juga bisa terus berkembang dan kontainer yang masuk bisa terus melonjak. Karena secara letak Batuampar sangat strategis dibanding rencana mengembangkan Tanjungsauh yang posisinya lebih ke dalam,” kata Djasarmen.(r/ctb)

