CENTRALBATAM.CO.ID, PEKANBARU – Populasi hutan di wilayah Provinsi Riau kian menipis, keberadaan ekosistem yang biasa ditinggali ratusan bahkan ribuan jenis binatang buas itu perlahan beralhi fungsi.
Dibabat menjadi perumahan, sisanya jadi hutan industri. Begitulah kondisi hutan di Riau saat ini.
Dampaknya, banyak hewan di dalamnya merasa terusik dan kehilangan ‘hutan yang nyaman’. Salah satu contohnya, ialah keberadaan harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) yang masuk dan menjelajahi kebun sawit milik warga di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Salah satu dari enam sub-spesies harimau ini memasuki kebun sawit yang dahulunya merupakan hutan belantara. Namun, aksi nakal para konglomerat dengan gampangnya merubah rumah sang raja rimba itu untuk menghasilkan kucuran rupiah.
Jelas saja sang raja hutan Sumatera yang terkenal dengan loreng hitam-oranye itu masuk ke pemukiman warga. Lingkungan hijaunya berubah menjadi beton meninggi. Kebanyakan malah berubah menjadi pepohonan kelapa kecil yang diekstrak buahnya menjadi minyak goreng nabati.
“(Harimau) Sudah sering lewat kebun, kadang subuh, kadang juga menjelang malam,” kata warga sekitar, Rabu (24/5/2017) sore.
“Kalau sudah masuk (kebun) pasti mengaum. Kami selalu wanti-wanti (berjaga, red), takutnya terjadi apa-apa. Parang, senapan angin dan tali panjang sudah kami siapkan kalau harimau mulai menyerang,” ucap pria yang kerap memanen hasil sawit yang dimasuki sang raja belantara Sumatera itu.
Hingga kini, lalulintas harimau yang disebut memiliki ukuran panjang (250 cm) dan bobot mencapai 100 kilogram itu masih sering berlangsung. Pihaknya pun telah melaporkan kejadian tersebut ke petugas kepolisian dan polisi hutan. “Sudah lapor,” tandasnya.

