CENTRALBATAM.CO.ID, NATUNA – Empat tahun jembatan setungkuk rusak parah.
Jembatan setungkuk sepanjang 800 meter ini merupakan akses satu satunya penghubung, antar Desa Sebauk dan Desa Setungkuk, Sedanu Timur Kecamatan Bunguran Batubi, kabupaten Natuna.
Sebelumnya pada tahun 2019 pemerintah Desa, dan Kecamatan sudah mengadu kepada pemerintah daerah, dan DPRD, namun sayangnya hingga kini usulan tersebut belum juga ditindak lanjuti.
Kepala Desa (kedes) Tanjung Sebauk Sedanu Timur Tarmizi Ahmad, menjelaskan pada tahun 2021 muncul anggaran perbaikan jembatan sungai Setungkuk sebesar Rp 1,7 miliar, namun dikatannya tiba tiba ada pemangkasan menjadi Rp 1 miliar, dan anggaran tersebut menjadi hilang, hingga saat ini.
“Sebelumnya di tahun anggaran APBD 2021 anggaran Rp 1,7 miliar ada namun kata dewan dipangkas menjadi Rp 1 miliar. Saya bilang tidak apa-apa asal ada untuk perbaikan jembatan tersebut, dan ujung-ujungnya hilang anggaranya,” kata Tarmizi di kediamannya, Sabtu (22/1/2022).
Termizi berharap, anggaran untuk jembatan sungai Setungkuk tersebut setidaknya ada meskipun setiap tahunnya ditidak perlu full, asal setiap tahunnya anggaran itu tidak hilang seperti saat ini.
“Setidaknya ada anggaran itu meskipun kecil, jangan tiba tiba hilang dengan bermacam macam alasan, jika seperti ini terus menerus saya tidak mau lagi ikut Musrenbang percuma setiap tahunnya hanya satu ini yang saya pinta untuk perbaikan jembatan sungai setungkuk,” terangnya.
Ia kembali menjelaskan, sebelumnya pihak kecamatan telah menganggarkan menggunakan ADD sembat mengerjakan jembatan tersebut sejauh 40 meter dan dari kabupaten 30 meter di tahun 2020 lalu.
“Awalnya menggunakan add, tapi saya saat itu masih dusun, Edi Cahyadi satu kali saja habis itu tidak mampu lagi, dan di bantu abpd daoatlah dan total 70 meter saja masih ada sisa kurang lebih 700 meter lagi yang sangat parah saat ini. Dan sudah terlalu banyak warga saya yang jatuh di jembatan itu,”paparnya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, ketua RT 07 Sedanau timur, Sartono, warganya sudah sejak lama menginginkan dan mendambakan kelayakan jembatan tersebut karena menurutnya jembatan tersebut dibutuhkan, boleh warganya.
“Saya dan warga sudah sering mengadu, ke pihak desa namun belum juga ada tanggapan, pihak desa juga sudah sering mengadu ke penkab namun hasilnya nmasih nihil,” ucapnya di kediamannya Sabtu (22/1/2022).
Sambung Sartono, selain melancarkan mobilitas masyarakatnya, jembatan itu juga mempercepat pergerakan ekonomi masyarakatnya pasalnya karena jembatan diharapkan bisa mengangkut hasil tani karet dan cengkeh.
“Semenjak jembatan itu brusak kita harus mengangkut pelan pelan hasil karet bang, Karena mobil tidak berani masuk, dengan jarak yang jauh seperti itu kami harus berjalan sambil mengangkat hasil tani keujung jembatan,” keluhnya.
Ia berharap kepada Pemerintah Daerahaerah secepatnya untuk memperbaiki jembatan tersebut karena sudah cukup lama warganya menjadi korban akibat jembatan yang sudah lapuk termakan usia. (put)
