CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN –Sejak diperlakukannya pembatasan sosial atau social distance Bintan, belasan ribu masyarakat Bintan terpaksa hidup dibawah dibawah tekanan.
Pasalnya, tidak ada lagi perusahaan yang bersedia menerima tenaga kerja karena memang banyak usaha yang tutup akibat covid-19 ini.
“Jangankan untuk beli susu anak, bisa makan sehari saja sudah merasa bersyukur. Jangankan buat beli lauk pauk dan sayur mayur, dapat beras saja sudah bersyukur,”ungkap salah satu ibut rumah tangga (IRT), Erni mengeluh kondisi keluarganya, Rabu (22/4).
“Suami sekarang kerja bantu-bantu proyek bangunan. Dan kadang seminggu sepi pekerjaan,”tambahnya.
Untuk itu, ia sangat berharap bantuan yang digadang-gadang oleh Pemkab Bintan melalui Dinas sosial dapat terealisasi untuk meringankan beban keluarga.
“Apalagi saya ini dalam kondisi hamil tua harusnya minum susu, cuma uang harus dari mana saya tidak tahu. Bahkan kalau abang kemarin tidak kasih beras yang 5kg itu, mungkin kami tidak makan nasi hari ini,”paparnya.
Seperti diketahui, Pemkab Bintan beberapa waktu lalu sempat menyatakan akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang berdampak covid-19. Berdasarkan paparan Bupati Bintan, Apri Sujadi, sebanyak Rp 53 miliar telah dianggarkan untuk membantu masyarakat Bintan.
Sementara, itu kepala Dinas Sosial, Edy Yusri saat dikonfirmasi kapan bantuan itu disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan enggan menjawab. Sikap Edy Yusri ini terkesan tidak peduli terhadap masyarakat selayaknya seorang pejabat negara.
“Setidaknya, berikan jawaban kapan bisa turun. Karena itu hak warga yang memang sudah dianggarkan oleh pemerintah. Karena saat ini seluruh barang elektronik termasuk hp sudah terjual,”ujar warga lain, Andi.
Hal ini disampaikan Andi untuk mendesak pemerintah memberikan kepastian pada warga yang berharap. Karena dengan kepastian yang diberikan itu, masyarakat bisa mengambil keputusan misalnya meminjam uang sementara.
“Apa salahnya sih kasih kepastian. Misalnya minggu depan, ya sudah kita kan berani pinjam uang dari tetangga untuk sementara,”pungkasnya. (Ndn)

