CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN–Proyek pembangunan Waduk Kawal, Kecamatan Gunungkijang, Bintan diisukan mangkrak. Untuk menelusuri kebenaran isu tersebut, team investigasi centralbatam.co.id menelusuri proyek dengan pagu anggaran Rp 84 milliar melalui APBN diatas lahan 219 heaktar.
Isu mangkarak pembangunan waduk ini ditenggarai karena pembangunan waduk itu harus dimulai pada tahun 2014 lalu. Kemudian, kontraktor ditargetkan agar selesai pada tahun 2018 ini. Sementara, hingga bulan Juli 2018 ini belum terlihat pembangunan jalan sampai dari lokasi waduk yang ditembus ke jalan raya. Akibatnya, beberapa warga menduga proyek ini bakal mangkrak.
Memasuki lokasi pembangunan waduk ini tidak lah mudah. Pasalnya, untuk masuk ke lokasi dari Desa Malang tim harus melewati tanah warga sekitar, kemudian berlanjut menelusuri lereng bukit dan rawa yang dipenuhi oleh ratusan pohon kelapa sawit milik PT Tirta Madu.
Salah satu petani yang juga warga Desa disana, Anton saat ditemui, mengatakan lahan yang ia kelola itu merupakan lahan bosnya asal negara Singapura. Meskipun demikian, pemilik lahan mengakui telah mendapatkan informasi kalau ada pembebasan lahan oleh kementrian.
“Pembebasan lahan sudah dilakukan, lahan yang berada di rawa sana seluas 2 hektar sekarang milik pemerintah. Hanya saja kapan hendak digarap oleh kontraktor waduk, masih belum tau,” ujar Anton, Kamis (26/7/2018).

Mengenai proyek multi milliar itu mangkarak atau tidak, Anto mengaku tidak thau. Namun ia menyatakan, kendaraan hampir sepanjang siang dan malam keluar masuk dari lokasi pembangunan Embung Air Bakau yang berada di perbatasan Desa Malang Rapat dan Toapaya Utara.
“Kalau mangkrak atau tidak saya tidak tahu. Tapi sepengetahuan saya, siang dan malam ada lori keluar masuk. Wilayah kami saat ini baru sebagian dibangun karena menurut kontraktornya mereka terlebih dahulu membangun Embung di tengah perkebunan kelapa sawit sana,” jelasnya.
Menuju ke lokasi tempat dibangunnya Embung itu dari Desa Malang Rapat memang tidak mudah. Sebab jalan menuju lokasi dipenuhi rumput.
Sekitar 15 menit memasuki kawasan kelapa sawit milik PT Tirta Madu terdapat dua alat berat buldoser sedang meratakan jalan, akibatnya jalan menuju lokasi Embung harus mutar-mutar ditengah hutan.
Berdasarkan penuturan salah satu sopir buldoser, hampir setiap hari lembur untuk meratakan jalan dari Embung Air Bakau menuju jalan besar. Hal ini karena sesuai permintaan kontraktor agar pembangunan jalan di sana dipercepat.
Selain supir buldoser, terlihat beberapa pekerja lain sibuk mengejarkan proyek pembangunan tiang di jalan.
Rencanannya, tiang itu nantinya akan dipakai jadikan sebagai pembatas waduk dengan lahan warga ataupun PT yang berada di sekitar waduk.
Semakin jauh memasuki lokasi pembangunan Embung, semakin banyak aktifitas disana. Hingga akhir centralbatam.co.id bertemu dengan salah satu perwakilan PT Taruna Putra Pertiwi, Rudi, asal Jakarta sebagai pemenang tender proyek ini.
Ditanya terkait proyeknya mangkrak, Rudi langsung membantah. “Tidak! Kami tidak mangkrak,” kata Rudi.
Rudi menjelaskan pembahasan proyek pada tahun 2014 itu baru sebatas inisiatif pengadaan proyek dilokasi. Sedangan untuk realisasi tendernya dimulai pada pertengahan 2017. Kemudian, dari kontrak kerjanya itu diberikan waktu dua tahun yaitu tahun 2019 nanti.
“Kalau dibilang mangkrak itu, tidak. Karena tahun 2014 itu baru sebatas inisiatif pengadaan proyek disini. Nah, dipertengahan tahun 2017, kalau tak salah sekita Sepetember 2017 realisasi pembangunan ada. Jadi waktu kami 2 tahun,” sebut Rudi.
Ditanya terkait isu pembangunan waduk ini selesai tahun 2018, ia mengatakan itu sebatas request (pemintaan) agar selesai akhir tahun 2018.
“Request bisa selesai di akhir tahun 2018, nah kita sedang berusaha memenuhi request itu. Tapi kalau dibilang mangkrak, ya nggak lah pak. Kita baru setengah jalan ini,” katanya.
Hingga saat ini, lanjutnya proyek pembangunan yang sudah dikerjakan telah mencapai 35 persen. Sementara, untuk mengejar pemerintah daerah katanya telah meminta pekerja lembur.
“Ya mudah-mudahan. Yang penting saat ini kita sedang menggenjot semua pekerja,” ungkapnya.
Hal sendan juga disampaikan oleh juru bicara proyek di lokasi, Sayed. Sayed mengatakan proyek ini tidak mangkrak.
“Mangkrak, ya nggak lah. Karena proyeksi awal masih belum mencapai waktu. Kemudian, hingga saat ini juga proses pengerjaan masih lanjut. Lihat sendiri tuh pekerja masih bekerja. Kalau mangkrak kan berarti proses pembangunan terhenti,” paparnya.
Sementara itu, salah satu warga yang ditemui tidak jauh dari lokasi, Nudin berharap waduk ini segera terselesaikan agar dapat dimanfaatkan oleh warga.
Menurutnya, masih ada beberapa permasalahan disana yang mesti dibantu oleh pemerintah. Salah satunya terkait dualisme kepemilikan lahan.
Terkait pembebasan lahan, Nurdin mengakui terkait adanya dualiasme kepemilikan disana antara dua PT.
“Ya, kalau itu ada, dan kami juga berharap pada Pemprov Kepri, dalam hal ini Gubernur Kepri agar segera menyelesaikan pembebasan lahan terkait dualisme kepemilikan lahan antara PT Prima Agung dengan PT Golden Flores,” tambahnya.
Meskipun masih ada masalah terkait pembebasan lahan, lanjutnya, proses penggarapan Embung Air Bakau dan pembangunan jalan tidak tergangu, karena kedua PT itu sudah sepakat lahannya dipakai untuk pembangunan waduk.
“Masalah tidak ada. Cuma kalau masalah terkait dualisme ini selesai kan lebih bagus,” pungkasnya.(ndn)

