Oleh: Fania Riska Agatha
Kita memiliki banyak teman, tapi merasa kesepian. Kita berbicara dengan mereka setiap hari, namun tak satupun yang mengenal dengan baik.
Masalah yang saya hadapi ialah adanya perbedaan antara menatap lawan bicara atau hanya melihat nama orang di layar.
Lalu, saya melangkah mundur dan membuka mata. Melihat sekeliling dan menyadari, media yang kita sebut sosial ini memang segalanya. Namun ketika kita membuka komputer, saat itupula kita menutup pintu.
Semua teknologi yang kita punya ini hanyalah sebuah ilusi. Komunitas, persahabatan dan rasa kebersamaan yang hanya terdapat dalam sebuah layar.
Ketika kamu beranjak dari perangkat hayalan ini, kamu tersadar dan melihat dunia yang membingungkan. Dunia dimana, kita diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri.
Dimana informasi dijual oleh orang-orang kaya nan rakus, dunia yang dipenuhi kepentingan pribadi, penciteraan, promosi diri. Parahnya, kita mengaku memberikan bagian yang terbaik dari diri kita tanpa menggunakan perasaan.
Kita merasa paling bahagia ketika berbagi pengalaman, namun bagaimana rasanya jika tidak ada orang lain yang mendengar pengalaman itu?
Datangilah teman-temanmu, maka mereka akan mendatangimu. Mereka tak akan menemuimu, jika kau hanya temui mereka di Group Message.
Kita selalu membanggakan diri dan mengharapkan pujian, namun kita pura-pura tidak sadar bahwa kita terasing secara sosial. Kita merangkai kata yang indah, seakan hidup ini sempurna. Padahal kita tidak tahu, apakah ada orang yang peduli.
Sendirian bukan masalah, dan itulah intinya. Bila kamu membaca, menulis atau apapun itu maka kamu akan menjadi produktif dan diakui dunia dan bukan hanya menjadi pelengkap.
Kamu sadar sepenuhnya dan penuh perhatian, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Jadi, ketika kamu berada ditempat umum tapi masih merasa kesepian. Maka lepas tanganmu dari belenggu ponselmu.
Kamu tidak memerlukannya bukan? Bila perlu hapus daftar kontakmu. Saling berbicaralah, belajar hidup bersosial.
Saya tidak tahan melihat keheningan dalam angkutan umum yang sesak. Tak seorangpun ingin bicara, karena takut disebut ‘aneh’.
Dan akhirnya, kita hanya menjadi makhluk ‘Anti Sosial’.
Kita tidak lagi terpuaskan dengan hubungan antar sesama manusia dengan saling bertatap mata. Bahkan kita dikelilingi oleh anak-anak, yang sejak mereka dilahirkan mereka melihat kita seperti robot dan mereka menganggap itu normal.
Sepertinya mustahil untuk menjadi orangtua hebat, karena kamu tidak bisa menghibur anak-anak tanpa bantuan I-Pad, Notebook, dan layar-layar lainnya.
Saat kecil, saya jarang dirumah. Saya selalu bermain di lumpur dan semak dengan teman-teman. Sandal putus dan lutut berdarah karena asyiknya bermain dan berbahagia.
Sekarang? Sunyi! Tak ada anak yang bermain dan ayunanpun tampak berkarat kaku.
Tak ada yang berlari, bermain dan melompat. Kita adalah generasi Idiot.
“Telepon pintar dan manusia bodoh”
Jadi, mari alihkan pandanganmu dari telepon dan matikan layarnya. Gantinya, hidupkan lingkungan sekitarmu dan ciptakanlah hari yang indah.
Cukup satu, hubungan nyata. Itu yang diperlukan untuk menunjukkan perbedaan yang diciptakan oleh kehadiran.
Hadirlah pada saat dia memandangmu, dan itu akan kamu ingat selamanya. Saat kamu berbeda pendapat, namun tetap mencintainya sepenuh hati. Saat dimana kamu tidak perlu menceritakan jutaan hal yang telah kau kerjakan. Karena kamu hanya butuh waktu, untuk bersama.
Saat kamu menjual komputermu untuk membelikannya cincin, saat dimana kamu ingin memulai suatu keluarga dan saat pertama kali kau menggenggam tangan gadis kecilmu. Saat kamu benar-benar ingin tidur dan ia terjaga untukmu dan saat kamu menghapus air matamu ketika anakmu harus mencari hal baru.
Saat nanti anakmu kembali, membawa gadis kecilnya untuk kau gendong dan memanggilmu kakek hingga kau terlihat telah tua.
Saat kamu mendapatkan semua yang telah kamu ciptakan dengan memberikan perhatian yang nyata, betapa bahagianya kamu yang tidak menyia-nyiakan waktu hanya bermain dengan dunia khayal layar ponsel.
Saat kamu memegang tangan istrimu dan duduk disampingnya, mengucap kau sangat menyayanginya. Kemudian dia berbisik padamu, disaat-saat terakhirnya bahwa ia sangat beruntung menemukanmu yang nyata, bukan khayalan.
Tapi, semua itu tidak akan pernah terjadi bila kamu masih sibuk menatap layar ponselmu. Kamu akan kehilangan banyak kesempatan, jadi alihkan perhatian dari ponselmu dan matikan semua layar-layar itu.
Waktu kita sangat terbatas, jangan buang waktumu berkutat dengan internet. Karena bila waktunya tiba, yang ada hanyalah penyesalan.
Sayapun bersalah karena menjadi bagian dari semua ini, dunia digital yang kita dengar namun tidak bisa kita lihat. Dimana kita bericara dengan magnetik dan mengobrol dengan cara membaca. Dimana kita menghabiskan waktu bersama, tanpa pernah saling bertatap mata.
Janganah kamu masuk dalam kehidupan yang mengikuti publisitas berlebihan. Namun berikan orang lain perhatian dan rasa cintamu.
”Mereka tidak butuh Like-mu, tapi kebersamaanmu,” maka jauhkan niatmu untuk didengar dan diakui, keluarlah dan tinggalkan semua itu.
Alihkan perhatian dari teleponmu, matikan layarnya.
Jangan membaca tulisan ini lagi, mulailah jalani kehidupanmu secara ‘Nyata’.(*)
