Apabila kita masih hidup dan bisa bertemu Ramadhan 1438 Hijriah, tiada kata-kata selain harus memperbanyak rasa syukur. Mengingat banyak saudara atau teman-teman kita sebelum Ramadhan sudah dipanggil Allah. Sebagai rasa syukur, banyak cara bisa dilakukan dengan memperbanyak amal di penghujung Ramadhan 1438 Hijriah ini.
Ibadah sunah yang sangat dianjurkan selama puasa berlangsung antara lain salat sunah tarawih, i’tikaf, infak, sedekah, tadarus alquran, umrah, silaturahim, hijamah (berbekam), atau ibadah lainnya. Sebagai umat Islam harus berbahagia dan selalu bersyukur. Perjalanan kita dari kelahiran, kehidupan, dan kematian sudah diberitakan Allah melalui wahyu.
Apapun yang akan dan sudah terjadi sudah disampaikan dalam Alquran dan hadis dengan sangat detail. Termasuk dalam hal ibadah dan muamalah, Allah dan rasul-Nya sudah menuntun kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 3 yang menegaskan bahwa dalam ajaran Islam semuanya sudah komplet dan lengkap.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah 3).
Ibnu Katsir dalam penjelasannya mengatakan bahwa hal itu merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam. Allah telah menyempurnakan untuk orang Islam agamanya. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi penutup para nabi dan sebagai nabi yang diutus kepada seluruh semesta alam.
Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkan Allah dan tidak ada yang haram selain apa yang sudah diharamkan Allah. Begitu juga dengan seseorang yang ditimpa sakit jasmani atau ruhani. Pengobatan cara Thibbun Nabawi sudah dilakukan sejak zaman kenabian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Secara maknawi, Thibbun Nabawi merupakan segala sesuatu yang disebutkan oleh alquran dan hadis yang shahih yang berkaitan dengan kedokteran, baik untuk pencegahan (penyakit) atau pengobatannya. Thibbun Nabawi dimaknai dengan petunjuk rasulullah dalam kedokteran yang berobat dengannya atau untuk mengobati orang lain.
Selain itu, Thibbun Nabawi yang menjadi metode pengobatan rasulullah yang diucapkan, tetapkan (akui), dan diamalkan. Hal ini merupakan pengobatan yang pasti dan bukan sangkaan. Sebab dapat mengobati penyakit jasad, ruh, dan indera manusia. Setiap penyakit itu ada obatnya sebagaimana hadis rasulullah yang artinya;
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia (Allah) turunkan untuk penyakit itu obatnya” (HR. Bukhari No. 5678 dari Abu Hurairah).
Dengan demikian, setiap manusia yang sakit bisa diobati dengan petunjuk alquran dan hadis. Dalam hadis yang lain disebutkan juga; “Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan obatnya bersamanya. Hanya saja tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453).
Jika seseorang sakit kemudian berobat akan diperoleh kesembuhan. Sabda rasulullah; “Setiap penyakit ada obatnya. Bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah” (HR. Muslim Nomor 5705).
Dalam Islam, beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat bisa didapatkan atas izin Allah yang terbebas dari syirik. Semestinya, kita sebagai umat Islam tidak meninggalkannya dan beralih kepada pengobatan lain. Atau dengan kata lain, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah sekedar sebagai pengobatan alternatif (sampingan).
Justru kita harus menjadikan Thibbun Nabawi sebagai cara pengobatan yang utama karena kepastiannya sudah dijamin Allah. Pengobatan yang diajarkan rasulullah diyakini kesembuhannya karena bersumber wahyu. Maka berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seseorang tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu.
Tidak boleh juga seseorang meyakini bahwa obat atau tabib (tukang mengobati) yang memberikan kesembuhan sakitnya, tapi kepada Allah-lah yang memberikan penyakit dan sekaligus menurunkan penawarnya. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim AS tentang Tuhannya;
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku” (QS. Asy Syu’ara` 80).
Banyak hadis tentang Thibbun Nabawi yang menjelaskan persoalan pengobatan. Di antaranya tentang ruqyah, yakni metode penyembuhan dengan cara membacakan ayat-ayat Alquran kepada orang yang sakit akibat dari ‘ain (mata hasad), sengatan hewan, sihir (teluh, santet, pelet, dll), racun, rasa sakit, sedih, gila, kerasukan, gangguan jin, dan sihir lainnya.
Selain itu mengenai hijamah atau berbekam. Terapi ini merupakan cara pengobatan yang sederhana, yakni mengeluarkan darah kotor dari tubuh dengan cara menggores permukaan kulit dan menyedot darah dari permukaan kulit. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang artinya;
“Kesembuhan itu terdapat pada tiga hal, yakni meminum madu, sayatan (goresan) alat bekam, dan kay (sundutan) dengan api, tetapi sesungguhnya aku (Rasulullah) melarang umatku dari kay” (HR. Bukhari).
Berbekam adalah mengeluarkan darah dari permukaan kulit melalui sebuah alat khusus. Hal ini merupakan metode pengobatan yang sangat dianjurkan di dalam agama Islam. Saat Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi’raj, Nabi tidak hanya menerima wahyu salat wajib (fardhu), tetapi juga mendapat perintah dari malaikat.
Sebuah perintah dan wasiat yang sangat menakjubkan. Namun pada kenyataannya, umat Islam belum banyak melakukan pengobatan dengan cara bekam. Padahal jika diteliti secara medis konvensional (modern), bekam yang dperintahkan oleh Nabi Muhammad banyak mengandung manfaat. Sebagaimana sabda rasulullah;
“Berbekamlah pada hari 17, 19 dan 21 di bulan Hijriah, sehingga darah tidak akan mengalami hipertensi yang dapat membunuh kalian” (Kitab Kasyful Astaar `an Zawaa-idil Bazar, karya Al Haitsami III/388).
Menurutnya, jika dikaji secara medis, pada kasus tekanan darah tinggi jika tidak diobati akan mengakibatkan penyakit stroke atau pembuluh darah pecah. Darah yang dikeluarkan dari mangkuk bekam merupakan darah rusak akibat dampak terpapar oksidan. Oksidan nama lainnya adalah radikal bebas setara dengan reactive oxygen species (ROS).
Bekam bisa mengobati diabetes (kencing manis), gangguan sirkulasi darah, penyempitan pembuluh jantung, paru-paru, ginjal, dan berbagai penyakit lainnya. Hal ini disebabkan darah merah dalam tubuh terkena berbagai macam racun yang berasal dari asap kendaraan, asap rokok, makanan, atau minuman tercemar radikal bebas.
Saat asap atau asupan makanan masuk ke dalam tubuh karena mengandung radikal bebas, lanjut dia, maka akan menjadikan sel darah merah menjadi tidak elastis. Sehingga sel darah yang seharusnya membawa oksigen sebagai penghantar oksigen ke dalam jaringan menjadi kacau atau terganggu.
Dengan demikian jika terganggu maka akan timbul keluhan-keluhan klinis, seperti sering capai, mudah lelah, masuk angin, dan sebagainya. Dengan pembekaman terbukti dapat mempercepat regenerasi sel darah merah. Sehingga fungsinya sebagai penghantar oksigen akan kembali maksimal.
Kalau berbekam dilakukan secara teratur maka fungsi organ akan kembali kepada fungsi yang normal, optimal, dan terbebas dari segala macam penyakit. Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad bahwasanya bekam bisa menyembuhkan segala jenis penyakit. Dengan demikian, hijamah menjadi salah satu pilihan agung dalam mencari kesembuhan.
Selain itu, hijamah sebagai rahmat Allah agar hamba melakukannya selama Ramadhan sebagai suatu amalan tambahan. Dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Untuk konsultasi hijamah & ruqyah bisa melalui SMS/WA +6281328712147. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini, aamiin.

