Ada sebuah keajaiban yang diberikan Allah kepada kita menjelang sepuluh hari Idhul Fitri. Hamba-hamba yang rajin dan tekun ibadah mulai malam ke-21, ke-22, ke-23, ke-24, ke-25, ke-26, ke-27, ke-28, dan ke-29 akan diberikan Lailatul Qadar. Malam ini sangat agung dan mulia melebihi malam-malam lainnya.
Allah menyebutkan Lailatul Qadar adalah malam yang penuh dengan keberkahan. Firman Allah;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan 3-4).
Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam Lailatul Qadar sebagaimana ditafsirkan dalam surat Al Qadar;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkannya Alquran pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar 1).
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya;
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadar 3-5).
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan” (HR. Bukhari No. 1880).
Terjadinya Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil (malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29) lebih memungkinkan daripada malam-malam genap. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari No. 1887).
Terjadinya Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadis dari Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa” (HR. Bukhari No. 6476 | Muslim No. 1988).
Ada pendapat yang memilih Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27, yakni sebagaimana yang ditegaskan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu. Tetapi pendapat yang paling kuat dari pelbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.
Adapun waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun, bisa malam ke-21, ke-22, ke-23, ke-24, ke-25, ke-26, ke-27, ke-28, atau ke-29nya. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah.
Hal ini dikuatkan oleh sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa” (HR. Bukhari No. 1880).
Tanda Lailatul Qadar
1. Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan” (HR. Ath Thoyalisi)
2. Para malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak akan didapatkan pada hari-hari yang lain
3. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
4. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;
أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
“Saya mendengar (Ubay bin Ka’ab) berkata, dan telah dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata: Siapa yang melakukan salat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadar. Ubay berkata: Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadlan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul Qadar itu adalah malam, di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot” (HR. Muslim No. 1272).
Pahala sempurna dan ampunan lengkap merupakan dua di antara beragam nilai keagungan dari Lailatul Qadar yang senantiasa turun pada bulan Ramadhan. Kesempatan menggapai nilai keagungan malam ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Sebab peluang emas ini belum tentu kita peroleh kembali pada tahun-tahun yang akan datang.
Mari tinggalkan urusan duniawi sejenak. Urusan-urusan kita atau segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, yakni mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk, bahagia dan celaka, jodoh, dan urusan gaib lainnya ditentukan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Insya Allah kehidupan kita menjadi lebih baik jika mampu meraih Lailatul Qadar.
Lantas mengapa Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam Lailatul Qadar? Hikmahnya adalah agar antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas-malas beribadah bisa dibedakan. Orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu akan bersungguh-sungguh berusahanya.
Selain itu ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut. Dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini, aamiin.

