I’tikaf atau berdiam diri dalam masjid dengan niat dan tujuan fokus ibadah di akhir sepuluh malam Ramadhan 1438 Hijriah sangat istimewa. Meski demikian, masih banyak di antara kita belum tahu cara i’tikaf dan apa saja yang harus dilakukan selama berada dalam masjid. Sebelum beri’tikaf, kita diwajibkan tahu syarat dan rukunnya agar hasilnya maksimal.
Dari segi bahasa, i’tikaf menetap di sebuah tempat. Khusus Ramadhan, i’tikaf bermakna berdiam diri di masjid niatan khusus. Hukumnya i’tikaf sunnah muakkad (sangat dianjurkan) setiap sepuluh akhir Ramadhan. Pada sepuluh malam terakhir terdapat malam agung yang dinamai dengan Lailatul Qadar. Allah berfirman;
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar 3).
Syarat i’tikaf adalah niat, berdiam secara pribadi (menjaga lisan, perbuatan, menjaga syahwat, dll), berdiam dalam masjid, baligh, berakal, suci dari hadas kecil/besar, dan tidak keluar dari masjid selama i’tikaf dimulai. Kemudian amalan-amalan apa sajakah yang harus dilakukan selama beri’tikaf? Setidaknya ada lima amalan agung yang dianjurkan;
1. Salat
Salat adalah ibadah pokok yang paling utama dan paling besar pahalanya. Amalan ini dianjurkan untuk diperbanyak dilakukan. Sebab salat merupakan hubungan langsung antara dua pihak, seorang hamba dengan pencipta-Nya. Untuk salat sunnah bisa dilakukan sunah dhuha, sunah tahajud, sunah hajat, sunah sebelum dan sesudah salat fardhu, sunah tarawih, dan lainnya
2. Banyak Membaca Alquran
Dengan membaca Alquran hati akan menjadi tenang. Selain itu, dengan membaca Alquran akan diberikan hidayah dan petunjuk serta jaminan untuk memperoleh syafaat di hari kiamat kelak. Hanya saja, pada pelaksaan i’tikaf di masjid masih banyak yang sibuk membaca SMS/WhatsApp (WA) atau urusan dunianya.
Sebaiknya, ketika sudah masuk dalam masjid, tempat yang mulia, ponsel (android) dimatikan nada deringnya atau di-offline-kan. Tujuannya supaya khusyuk dan tidak mengganggu konsentrasi jemaah lain. Jika kita bertamu dengan Presiden, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, atau RT/RW tidak nyambi mainan hp (ponsel).
Lha ini, kita sedang bertamu sama yang menciptakan seluruh isi bumi dan langit mosok disambi mainan hp/facebookan, twiteran, WA-nan, tentu sangat tidak etis dan tata krama kita dipertanyakan. Maka, biasakanlah untuk mengagungkan Allah di dalam dan luar masjid, jangan remehkan Allah dengan mainan ponsel pintar Anda.
Sabda Rasulullah: “Bacalah oleh kalian Alquran. Karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian pada hari kiamat sebagai syafaat” (HR Muslim).
Hadis di atas menganjurkan kita untuk membaca Alquran, bukan membaca SMS/WhatsApp (WA) atau koran/majalah/buku di dalam masjid saat i’tikaf. Nantilah ada saatnya kita berurusan dengan masalah dunia. Khusus sepuluh hari terakhir ini mari sibukkan dengan ibadah dan ibadah.
3. Memperbanyak Zikir
Zikir yang dianjurkan seperti bertasbih, bertahmid, bertakbir, tahlil, istighfar, dan lainnya. Menurut para ulama, zikir merupakan ibadah khusus untuk bertaqarub (mendekatkan) kepada Allah. Oleh karenanya, menyibukan diri dengan zikir saat i’tikaf akan memperoleh pahala yang berlipat-lipat dan rahmat Allah yang sangat besar.
Allah akan mengingat hamba yang mengingat-Nya, seperti firman Allah: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat juga kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (QS. Al Baqarah 152).
4. Perbanyak Membaca Salawat
Membaca salawat merupakan salah satu sebab turunnya rahmat Allah Ta’ala. Bahkan berlipat-lipat rahmatnya. Seperti sabda rasulullah: “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberinya rahmat sepuluh” (HR. Muslim).
5. Kurangi Sosialisasi Saat I’tikaf
Menurut beberapa ulama i’tikaf selesai sampai menjelang Idul Fitri. Keesokan harinya keluar dari masjid langsung menuju tempat Idul Fitri. Hal itu akan lebih baik karena menyambung satu ibadah dengan ibadah lainnya. Wallahu A’lam.

