Keutamaan Lailatul Qadar lebih baik daripada keutamaan seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar. Pada malam yang mulia ini, para malaikat akan lebih banyak turun ke dunia dikarenakan melimpahnya berkah dalam malam tersebut. Selain itu, malaikat akan turun seiring turunnya berkah dari Allah.
Yakni keselamatan yang ditebarkan hingga terbitnya fajar dan seluruh kebaikan terkandung dalam malam tersebut sehingga tidak ada keburukan sampai terbitnya fajar. Pada malam ini, segala urusan yang penuh hikmah dirinci. Maksudnya segala kejadian selama setahun ke depan ditentukan dengan izin Allah Yang Maha Bijaksana.
Penentuan takdir pada malam tersebut adalah penentuan takdir tahunan. Adapun penentuan takdir secara umum yang tercantum dalam Lauhul Mahfuzh, maka hal tersebut telah tercatat sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Maka, sudah sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam menelusuri suatu malam yang memiliki kedudukan seperti ini. Tujuannya supaya mendapatkan keberuntungan dengan pahala yang terdapat pada malam tersebut. Tidak hanya memperoleh ganjarannya namun akan menerima keberkahannya.
Orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan pahala pada malam Lailatul Qadar. Barangsiapa yang melewatkan momen-momen kebaikan maka sungguh besar kerugian dan penyesalan yang menimpanya. Seseorang yang merasa malas dalam melakukan kebaikan pada malam Lailatul Qadar, maka kapan lagi dirinya akan beramal?
Bersemangat mencari malam yang penuh berkah ini dan berdoa di dalamnya merupakan ciri hamba terpilih. Jika mereka berdoa dengan penuh kesungguhan kepada Allah, maka diberikan ampunan dan perlindungan baginya. Sebab segala sesuatu yang akan terjadi pada diri seseorang selama setahun ke depan ditetapkan pada malam Lailatul Qadar.
At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, beliau berkata;
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadar, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu? Beliau menjawab: Katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni, artinya: Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini” (HR. At Tirmidzi No. 3513 | Ibnu Majah No. 3850 | Shahih Ibnu Majah No. 3105)
اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau senang memaafkan kesalahan, maka maafkanlah aku”
Doa di atas yang sangat barokah ini memiliki makna besar, mendalam penunjukannya, banyak manfaat dan pengaruhnya, serta doa ini sesuai dengan keberadaan malam Lailatul Qodar. Sebagaimana disebutkan, Lailatul Qodar adalah malam yang dijelaskan segala urusan dengan penuh hikmah dan ditentukan takdir amalan-amalan hamba selama setahun penuh.
Artinya segala sesuatu yang akan dituliskan kita ditetapkan sampai bertemu lailatul Qodar tahun berikutnya. Maka barangsiapa yang dianugerahi pada malam tersebut al ‘afiyah (kebaikan) dan al ‘afwa (dimaafkan kesalahannya) oleh Allah, maka sungguh dia telah mendapat kemenangan, keberuntungan, dan kesuksesan yang sebesar-besarnya.
Barangsiapa yang diberikan al ‘afiyah (kebaikan) di dunia dan di akhirat maka sungguh dia telah diberikan kebaikan dengan seluruh bagian-bagiannya. Dan tidak ada yang sebanding dengan al ‘afiyah (kebaikan) tersebut. Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad dan At Tirmidzi dalam As Sunan dari Al Abbas bin Abdil Muthollib beliau berkata:
“Aku berkata wahai Rasulullah, ajarkan sesuatu (doa) yang aku gunakan meminta kepada Allah, Rasulullah menjawab; mintalah kepada Allah al ‘afiyah (kebaikan), maka pada suatu hari aku berdiam diri kemudian aku datang lagi pada Rasulullah aku katakan: Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu yang aku gunakan meminta kepada Allah, maka beliau berkata kepadaku: Wahai Abbas, wahai pamannya Rasullullah mintalah kepada Allah al ‘afiyah (kebaikan) di dunia dan di akhirat”.
Oleh sebab itu, sesungguhnya termasuk kebaikan bagi seorang muslim untuk memperbanyak doa yang barokah ini pada setiap waktu dan di manapun dirinya berada. Terlebih ketika sudah berniat dan berdiam diri (i’tikaf) di masjid. Yakinilah bahwasannya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah yang senang memberikan maaf kepada hamba-Nya.
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. As Syura 25).
Amalan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan:
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam beribadah, seperti salatnya, membaca Alqurannya, dan berdoanya
2. Diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallahu ‘Anhu: sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Biasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika memasuki sepuluh (malam terakhir Ramadhan) menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan kainnya (semangat beribadah dan menghindari istri-istrinya)
3. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim: Beliau (Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersungguh-sungguh (ibadah) pada sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhannya pada selain Ramadhan
4. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan untuk menunaikan qiyam (ibadah) pada Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan
5. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesungguhnya beliau bersabda: Barangsiapa yang berdiri menunaikan salat pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan harap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
6. Selama berada di masjid untuk i’tikaf, seyogianya disibukkan dengan segala sesuatu ibadah. Sementara kurangi (tinggalkan) bermain ponsel untuk WhatsApp-an, Facebook-an, Twitter-an, SMS-an, teleponan, atau hal-hal yang tidak memliki esensi ibadah. Wallahu A’lam Bishshawab.

