Umat Islam harus meyakini bahwa Ramadhan memiliki keistimewaan penuh selama 29 atau 30 hari. Salah satu keutamaannya adalah Lailatul Qadar. Sebuah malam yang dinilai oleh Alquran dan sunah sebagai “malam yang lebih baik dari seribu bulan”. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda;
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Ketika datang bulan Ramadhan Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, padanya Allah mewajibkan kalian shaum (puasa), padanya pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan (HR. Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Abd bin Humaid, Ishaq bin Rahawaih).
Ada apa dengan malam itu sehingga dinilai tinggi oleh Alquran dan sunah? Sebelum menelaah lebih jauh tentang masalah itu, ada baiknya apabila kita kaji terlebih dahulu kriteria dari malam tersebut.
Pengertian Lailatul Qadar
Secara bahasa Lailatul Qadar berarti “Malam Yang Agung”, malam yang besar nilainya. Sedangkan secara istilah Lailatul Qadar menunjukkan dua pengertian: Pertama, Lailatul Qadar pada waktu turunnya Alquran secara sekaligus. Kedua, Lailatul Qadar yang dijanjikan akan terjadi setiap bulan Ramadhan, meskipun Alquran telah selesai diturunkan.
Makna pertama mengenai Lailatul Qadar ketika turunnya Alquran sekaligus. Pemaknaan ini merujuk kepada firman Allah sebagai berikut;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ القَدْرِ وَمَا أَدْرَا كَ مَا لَـيْلَةُ القَدْرِ لَـيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْـفِ شَـهْرٍ تَنَـزَّلُ المَلآئِكَةُ وَالرُّوحُ فِـيهَا بِـإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلاَمٌ هِيَ حَـتَّى مَطْلَـعِ اْلـفَجْرِ
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam kemuliaan. Dan apakah engkau sudah mengetahui apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu, lebih utama daripada seribu bulan. Turun malaikat dan Ar Ruuh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka (dengan membawa pokok-pokok) dari setiap perintah (hukum-hukum yang perlu bagi dunia dan akhirat). Sejahteralah ia sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr 1-5)
Dalam firman yang lainnya;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ اْلقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَاْلفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, keterangan-keterangan petunjuk itu dan pemisah antara yang haq dan yang batal” (QS. Al Baqarah 185).
Juga firman-Nya;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada malam yang diberkahi” (QS. Ad Dukhan 3).
Ketiga ayat di atas menunjukkan bahwa Lailatul Qadar adalah satu malam di bulan Ramadhan, sebagai waktu diturunkan Alquran secara menyeluruh dari lawhul mahfuzh ke Bait Al ‘Izzah di langit dunia. Malam itu disifati dengan Lailah Mubaarakah (malam yang sangat diberkahi).
Sehubungan dengan itu Ibnu Abbas menegaskan;
أُنْزِلَ الْقُرْآن جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْزِلَ بَعْد ذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً قَالَ : {وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا} وَقَرَأَ ( وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً )
“Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada Lailatul Qadar, kemudian setelah itu diturunkan (kepada Rasul) pada masa 20 tahun. Allah berfirman: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” (QS. Al Furqan 33). Dan ia membaca ayat wa quranan faraqnahu… (QS. Al Isra 106)” (HR. An Nasai).
Dalam riwayat lain;
أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا ، وَكَانَ بِمَوْقِعِ النُّجُومِ وَكَانَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُنْزِلُهُ عَلَى رَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْضَهُ فِى إِثْرِ بَعْضٍ.فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالُوا (لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاَ)
“Alquran diturunkan pada Lailatul Qadar sekaligus ke langit dunia, dan itu sesuai dengan masa turunnya bagian-bagian bintang, dan Allah ‘Azza wajalla menurunkannya kepada Rasul-Nya sebagian demi sebagian. Maka Allah ‘Azza wajalla berfirman: Dan mereka mengatakan: Lawlaa nuzzila ‘alaihil quraanu’ (QS. Al Furqan 32)” (HR. Al Baihaqi dan A Hakim).
Dalam riwayat lain dijelaskan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّهُ سَأَلَهُ عَطِيَّةُ بْنُ الاَسْوَدِ قَالَ: أَوَقَعَ فِي قَلْبِي الشَّكُ قَوْلُهُ تَعَالَى – شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ اْلقُرْآنُ- وَقَوْلُهُ : إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ القَدْرِ وَهذَا أُنْزِلَ فِي شَوَّالٍ وَذِي القَعْدَةِ وَذِي الحِجَّةِ وَفِي المُحَرَّمِ وَالصَّفَرِ وَشَهْرِ رَبِيْعٍ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّهُ أُنْزِلَ فِي رَمَضَانَ فِي لَيْلَةِ القَدْرِ جُمْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَى مَوَاقِعِ النُّجُومِ رَسَلاً فِي الشُّهُورِ وَالأَيَّامِ.
Dari Ibnu Abas bahwa ia pernah ditanya oleh Athiyah bin Al Aswad, ia berkata: Aku ragu-ragu tentang firman Allah: syahru ramadhaanalladzii unzila fihil quraanu dan firman-Nya: innaa anzaalnahu fii lailatil qadri. Apakah turunnya itu pada bulan Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, Shafar, dan Ar Rabi’? Ibnu Abbas menjawab: Bahwa Alquran itu diturunkan pada bulan Ramadhan pada malam Lailah Al Qadar secara sekaligus, kemudian diturunkan lagi berdasarkan masa turunnya bagian-bagian bintang secara berangsur pada beberapa bulan dan hari” (HR. Al Baihaqi).
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, bahwa Lailatul Qadar dalam pengertian pertama menunjukkan waktu diturunkan Alquran secara sekaligus dari lawhul mahfuzh ke Bait al ‘Izzah di langit dunia. Dan Lailatul Qadar dalam pengertian ini tidak akan terjadi lagi, karena Alquran telah selesai diturunkan.
Sifat dan Keutamaan Lailatul Qadar
Pada ayat Al Qadr 1-5, kata Lailatul Qadar disebut sebanyak tiga kali. Pengulangan itu untuk menunjukkan pengagungan dan agar lebih mendapat perhatian. Sedangkan malam itu diberi nama Lailatul Qadar karena kemuliaannya sehubungan dengan ditetapkan berbagi urusan, sebagaimana firman Allah;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan 3-4).
Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk, dan sebagainya.
Adapun malam itu disifati dengan malam yang diberkahi (QS. Ad Dukhan 3), karena pada malam itu diturunkan berbagai berkah (kebaikan yang banyak) serta manfaat agama dan dunia.
Pada ayat itu pula dinyatakan keutamaan malam tersebut sebagai berikut;
لَـيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْـفِ شَـهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih utama daripada seribu bulan” (QS. Al Qadr 3).
Menurut ahli tafsir ayat ini mengandung makna;
عَمَلُهَا وَصِيَامُهَا وَقِيَامُهَا خَيْرٌ مِنْ أَلْـفِ شَـهْرٍ
“Beramal, shaum (puasa), dan salat pada malam itu lebih baik daripada seribu bulan” (HR. At Thabari).
Dalam riwayat lain;
لَـيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْـفِ شَـهْرٍ لَيْسَ فِي تِلْكَ الشُّهُورِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ
“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar” (HR. Ibnu Abu Hatim).
Keterangan di atas menunjukkan pengertian bahwa beramal pada satu malam itu lebih baik daripada beramal pada seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar.
Pengertian ini sesuai dengan penjelasan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam;
فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ
“Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan” (HR. Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Abd bin Humaid, Ishaq bin Rahawaih).
Jadi, pahala sempurna dan ampunan lengkap merupakan dua di antara beragam nilai keagungan Lailatul Qadar yang senantiasa turun pada bulan Ramadhan. Kesempatan menggapai nilai keagungan malam itu terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Sebab peluang emas ini belum tentu kita peroleh kembali pada tahun-tahun yang akan datang.
Lailatul Qadar Selalu Ada dalam Ramadhan
Dalam makna kedua, Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Pemaknaan ini kita peroleh dari jawaban Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seseorang, sebagaimana diterangkan Ibnu Umar sebagai berikut;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ : هِىَ فِى كُلِّ رَمَضَانَ
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah ditanya tentang Lailatul Qadar dan aku mendengarnya. Beliau bersabda: Ia (Lailatul Qadar itu) ada pada setiap bulan Ramadhan” (HR. Abu Dawud, Al Baihaqi, dan Ath Thahawi).
Dalam hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan diri menyambut malam yang sangat mulia itu. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ
“Maka carilah oleh kalian pada sepuluh malam terakhir” (HR. Al Bukhari, Ahmad, Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Hiban, dan Ath Thahawi).
Dalam riwayat lain;
فَلْيَلْتَمِسْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
“Maka carilah oleh kalian pada sepuluh malam terakhir” (HR. Muslim).
Atau pada hadis yang lainnya;
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Selidikilah oleh kalian Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Al Baihaqi, Malik, dan Ibnu Abu Syaibah).
Berdasarkan keterangan di atas kita mengetahui bahwa Lailatul Qadar yang dianjurkan untuk dicari itu terdapat pada setiap bulan Ramadhan, lebih tepatnya pada sepuluh hari terakhir bulan itu. Walau demikian, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menerangkan secara pasti tanggalnya berapa?
Beliau rasulullah hanya menganjurkan agar lebih diperhatikan malam-malam setelah tanggal 20 Ramadhan. Allah sengaja tidak memberitahukan kepada Nabi Muhammad secara pasti tanggal berapa Lailatul Qadar itu terjadi. Sehingga dalam hal ini terkandung nilai pendidikan (tarbiyyah) yang amat mulia.
Tujuannya, agar setiap malam umat Islam mengisi malam-malamnya dengan ibadah dan doa, terutama pada malam-malam ganjil setelah berlalu 20 Ramadhan. Hal itu tampak jelas dari sikap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pada sepuluh hari terakhir setiap bulan Ramadan dengan mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam itu.
Aisyah menjelaskan;
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam apabila memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya dan tidak tidur serta membangunkan keluarganya” (HR. Al Bukhari dan Al Baghawi).
Dalam riwayat lain;
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اذَا بَقِىَ عَشْرٌ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَاعْتَزَلَ اهْلَهُ
“Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam apabila tersisa sepuluh hari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menjauhi istrinya” (HR. Ahmad)
Dalam hadis yang lain;
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, yang tidak beliau lakukan hal itu pada waktu lainnya” (HR. Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi, dan Ibnu Abu Syaibah).
Penjelasan makna hadis tentang mengencangkan sarung para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kalimat tersebut;
شَدَّ مِئْزَرَهُ
“Beliau (Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam) mengencangkan sarungnya”
Sebagian ulama memahami kalimat itu secara kinayah (kiasan) dari makna bersiap siaga untuk ibadah. Sementara ulama yang lain mengartikannya secara hakiki juga kiasan, yaitu menggunakan sarung dan tidak melepaskannya, menjauhi istrinya (tidak bercampur) dan bersiap siaga untuk melakukan segala ibadah.
Namun kata Imam Ash Shan’ani jika kalimat itu dimaknai ‘menjauhi istrinya’ tidak tepat sebab di dalam riwayat lain disebutkan dengan;
فَشَدَّ مِئْزَرَهُ وَاعْتَزَلَ النِّسَاءَ
“Beliau (Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam) mengencangkan sarungnya dan menjauhi istri-istrinya”. Penggunaan huruf waw (dan) menunjukkan makna perbedaan. Adapun kalimat;
وَأَحْيَا لَيْلَهُ
“Dan menghidupkan malamnya”.
Ini menunjukkan makna majazi (kiasan), yaitu tidak tidur pada malam itu. Sedangkan kalimat;
وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Serta membangunkan keluarganya” maksudnya adalah untuk salat dan ibadah yang lainnya.
Sikap keseriusan ini lebih dikhususkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pada sepuluh malam terakhir karena waktu untuk ibadah pada bulan Ramadhan akan segera berakhir. Lantas bagaimana dengan orang yang tidak sanggup melakukan ibadah pada sepuluh malam terakhir secara terus-menerus?
Sehubungan dengan hal itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;
إِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
“Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadar. Maka jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir” (HR. Muslim dan Ibnu Khuzaimah).
Dalam riwayat lain;
أُطْلُبُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَإِنْ غُلِبْتُمْ فَلَا تُغْلَبُوا عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Jika kalian tidak mampu maka jangan terlewatkan pada tujuh hari yang tersisa” (HR. Ahmad).
Sikap demikian itu tampak lebih jelas lagi dari ajakan dan pengumuman yang dilakukan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pada sore hari setelah salat Ashar. Kepada khalayak Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengajak berjamaah salat Tarawih pada malam-malam ganjil, sebagaimana diterangkan oleh Abu Dzar sebagai berikut;
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ لَمَّا كَانَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ إِعْتَكَفَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْـمَسْجِدِ فَلَمَّا صَلَّى الـنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ العَصْرِ مِنْ يَوْمِ اثْـنَـيْنِ وَعِشْرِينَ قَالَ : إِنَّا قَائِمُونَ اللَيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللهُ، مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ وَهِيَ لَيْلَةُ ثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ فَصَلاَّهَا الـنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَمَاعَةً بَعْدَ العَتَمَةِ حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَيْلِ ثُمَ انْصَرَفَ، فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ قَامَ بَعْدَ صَلاَةِ العَصْرِ يَوْمَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ ، فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ اللَّـيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللهُ يَعْنِى لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَقُمْ فَصَلَّى بِالنَّاسِ حَتَّي ذَهَبَ ثُلُثُ اللَيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةَ سِتٍّ وَعِشْرِينَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ صَلاَةِ العَصْرِ مِنْ يَوْمِ سِتٍّ وَعِشْرِينَ قَامَ فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ إِنْ شَاءَ اللهُ يَعْنِى لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ قَالَ أَبُو ذَرٍّ فَـتَجَلَّدْنَا لِلْقِيَامِ فَصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ e حَتَّى ذَهَبَ ثُلُـثَا اللَيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ اِلَى قُـبَّتِهِ فِى الْـمَسْجِدِ فَقُلْتُ لَهُ إِنْ كُنَّا لَقَدْ طَمِعْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَنْ تَقُومَ بِنَا حَتَّى تُصْبِحَ، فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ إِذَا صَلَّيْتَ مَعَ إِمَامِكَ وَانْصَرَفْتَ إِذَا انْصَرَفَ كُتِبَ لَكَ قُنُوتُ لَيْلَتِكَ
Dari Abu Dzar, ia berkata: Tatlaka sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam i’tikaf di masjid, ketika salat Ashar pada hari ke-22, beliau bersabda: Insya Allah kita akan berjamaah malam ini, siapa di antara kamu yang akan salat pada malam itu silakan dia salat, yakni malam ke-23, kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam salat malam itu dengan berjamaah setelah salat Isya sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau pulang. Pada malam ke-24, beliau tidak berkata apapun dan tidak mengimami, pada malam ke-25 beliau berdiri setelah salat Ashar, yaitu pada hari ke-24, kemudian bersabda: Kita akan berjamaah malam ini Insya Allah yakni pada malam ke-25. Siapa pun yang mau ikut berjamaah silakan. Kemudian ia mengimami orang-orang sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau pulang. Tatkala malam ke-26 ia tidak berkata apapun dan tidak mengimami kami, tatkala malam ke-27, beliau berdiri setelah salat Ashar pada hari ke-26, kemudian berdiri dan bersabda: ‘Insya Allah kita akan berjamaah malam ini yakni pada malam ke-27, siapa yang akan mengikuti berjamaah silakan. Abu Dzar berkata: Maka kami berusaha keras untuk ikut salat berjamaah itu, lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengimami kami sampai lewat dua pertiga malam. Kemudian beliau pergi menuju kubahnya di masjid (karena sedang i’tikaf). Saya berkata kepada beliau: Bagaimana jika kami sangat menginginkan tuan mengimami kami sampai subuh. Beliau bersabda: Wahai Abu Dzar jika engkau salat beserta imammu dan engkau selesai (salat) ketika imam itu selesai, telah ditetapkan (pahala) untukmu ketaatanmu pada malam itu” (HR. Ahmad dan Ath Thabrani).
Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa, keagungan Lailatul Qadar dan kebesaran nilainya tidak ada artinya bagi kaum muslimin jika pada malam itu tidur atau bangun tapi tidak melakukan amal ibadah. Sebab pada malam itu Allah memberikan kesempatan bagi kaum muslimin untuk bangun melakukan ibadah.
Oleh sebab itu, keagungan Lailatul Qadar akan menemui orang-orang yang mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa dalam menyambutnya. Hal itu tak ubahnya tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, dia tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya.
Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailatul Qadar datang menemuinya, maka malam kehadirannya menjadi saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Dan sejak saat itu malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di kemudian hari. Inilah inti dari keagungan Lailatul Qadar yang akan terjadi setiap bulan Ramadhan. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita sebagai salah seorang yang layak ditemui oleh tamu agung tersebut.
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Hadis-hadis yang berhubungan dengan waktu terjadinya Lailatul Qadar sangat banyak. Hal ini dilihat dari aspek variasi sumber periwayatan. Antara lain;
Hadis Pertama
عَنْ عُقْبَةَ وَهُوَ ابْنُ حُرَيْثٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
Dari Uqbah, yaitu bin Huraits, ia berkata: Saya mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadar. Maka jika salah seorang dari kalian tidak sempat atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir” (HR. Muslim dan Ibnu Khuzaimah).
Hadis di atas diriwayatkan dari Aisyah sebagai berikut;
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Aisyah bahwasannya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh terakhir terakhir bulan Ramadhan” (HR. Muslim dan At Tirmidzi).
Pemahaman Hadis
Maksudnya, mencari dari malam 21 sampai 29 atau 30 Ramadhan. Hadis ini tidak menginformasikan ketentuan harinya secara pasti, sebab bisa terjadi pada malam ke-21, ke-22, ke-23, dan seterusnya. Karena itu hadis ini dikategorikan sebagai hadis mujmal (keterangan secara umum) atau mutlaq (tanpa batasan).
Hadis Kedua
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Aisyah bahwasannya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir terakhir bulan Ramadhan” (HR. Al Bukhari dan Al Baihaqi).
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan sedikit perbedaan. Dalam riwayat lain dijelaskan oleh Ibnu Umar;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا
Dari Ibnu Umar, ia berkata: seseorang bermimpi bahwa Lailatul Qadr terdapat pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadhan. Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Aku bermimpi seperti mimpimu, yaitu pada sepuluh malam yang akhir. Karena itu, carilah ia pada malam-malam yang ganjil” (HR. Muslim).
Pemahaman Hadis
Pada hadis ini terdapat qayyid (pembatas) dengan kalimat fii al witr (pada malam-malam ganjil) di sepuluh malam terakhir itu. Maksudnya, carilah pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Dengan demikian, maka hadis-hadis kedua menjadi pembatas atau keterangan terperinci dari hadis-hadis pertama yang mutlaq (tanpa batasan).
Hadis Ketiga
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
Dari Ibnu Umar dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Carilah Lailatul Qadar itu pada tujuh terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Muslim, Malik, Abu Dawud, dan Al Baihaqi). Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ahmad dengan tambahan kalimat akhirnya: “Min Ramadhaan (dari bulan Ramadhan)”.
Pemahaman Hadis
Hadis di atas mengandung pengertian kalau Ramadhan 30 hari, carilah dari malam 24 hingga 30 = 7 hari. Kalau Ramadhan 29 hari, cari dari 23 hingga 29 = 7 hari.
Hadis Keempat
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
Dari Ibnu Abas bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Carilah dia (Lailatul Qadar) pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Lailatul Qadar itu tetap (ada) pada malam ke-9, malam ke-7, malam ke-5” (HR. Al Bukhari dan Al Baihaqi).
Pemahaman Hadis
Ungkapan yang ke-9 dari ke-10 akhir itu maksudnya malam ke-21. Ungkapan yang ke-7 dari 10 akhir maksudnya malam ke-23. Ungkapan yang ke-5 dari 10 akhir maksudnya malam ke-25. Dengan demikian, hadis di atas mengandung pengertian: carilah pada malam 21, 23, 25. Keterangan ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang memberi petunjuk umum sebab tidak membatasi hanya pada tanggal-tanggal tersebut saja yang harus dicari itu.
Hadis Kelima
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
Dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyaksikan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Maka rasulullah bersabda: Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas diriwayatkan juga demikian;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَقَالَ تَحَرَّوْهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa mencarinya, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam ke–27, dan beliau bersabda: Carilah ia pada malam ke–27, yakni Lailatul Qadar” (HR. Ahmad, Al Baihaqi, dan Abu Dawud Ath Thayalisi).
Hadis ini tidak membatasi bahwa terjadinya Lailatul Qadar itu hanya pada malam ke-27 saja. Melainkan keterangan ini termasuk salah satu bayan (penjelas) bagi petunjuk umum yang sudah ada. Berdasarkan analisa di atas, maka kita mengetahui bahwa meskipun berbeda redaksi hadisnya namun pada dasarnya hadis-hadis itu menunjukkan makna yang sama.
Yakni Lailatul Qadar itu akan terjadi di antara malam-malam berikut; malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Selain itu, hadis-hadis di atas juga menunjukkan bahwa setiap tahun posisi Lailatul Qadar itu tidak selalu berada pada tanggal yang sama. Sehubungan dengan itu, Ibnu Hibban telah membuat penjelasan;
ذِكْرُ الْخَبَرِ الدَّالِّ عَلَى أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ تَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ سَنَةٍ دُونَ أَنْ يَكُونَ كَوْنُهَا فِي السِّنِينَ كُلِّهَا فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ
“Keterangan kabar yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir itu akan berpindah pada setiap tahun, dan keadaannya pada tiap tahun tidak tetap di malam yang sama” (HR. Ibnu Hiban VIII/443).
Mengapa Tidak Dijelaskan Mendetail?
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : خَرَجَ نَبِـيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : خَرَجْتُ ِلأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ اْلمُسْـلِمِينَ فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ،وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالخَامِسَةِ
Dari Ubadah bin Shamit, ia mengatakan: Nabi Allah keluar untuk memberi tahu kami tentang Lailatul Qadar, namun dua orang dari muslimin bertengkar. Beliau bersabda: saya keluar untuk memberi tahu kalian tentang Lailatul Qadar, tetapi si fulan dan si fulan bertengkar. Maka diangkatlah (Lailatul Qadar) dariku, tetapi mudah-mudahan jadi lebih baik bagi kamu. Maka carilah pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima” (HR. Al Bukhari, Ath Thahawi, dan Ibnu Hibban).
Lailatul Qadar yang dimaksud tidak sempat dijelaskan dengan lebih terperinci oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sehinggga hal itu senantiasa dipertanyakan. Tetapi yang jelas mengenai fadhilah dan keutamaannya tergambar pada sikap beliau ketika menghadapi sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri tidak diberitahu kapan tepatnya terjadinya malam Lailatul Qadar. Pengetahuan tentang Lailatul Qadar telah diangkat kembali oleh sebab perkelahian antara dua orang laki-laki di hadapan Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr tidak layak hadir di antara orang yang sedang berbuat maksiat. Sehubungan dengan itu, Imam Al Bukhari menetapkan dalam kitab shahihnya;
بَاب رَفْعِ مَعْرِفَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِتَلَاحِي النَّاسِ
“Bab diangkatnya pengetahuan tentang (waktu terjadinya) Lailatul Qadar disebabkan pertengkaran manusia” (HR. Al Bukhari V:158).
Oelh sebab itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa dengan tidak dijelaskannya kepastian waktu terjadi Lailatul Qadr, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berharap bahwa hal itu akan lebih baik untuk kita. Apa kebaikan yang dimaksud? Menurut sebagian ulama supaya kita bersungguh-sungguh dalam menyambutnya dengan beribadah di setiap malam.
Jikalau terjadinya Lailatul Qadar langsung disebutkan pada malam tertentu, maka setiap orang akan bersungguh-sungguh hanya khsusus pada malam itu saja. Sedangkan pada malam-malam lainnya akan kehilangan gairah dan antusias untuk mengerjakan ibadah: salat, sedekah, tarawih, atau ibadah lainnya.
Siapa Yang Memperoleh Lailatul Qadar
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan syarat-syarat dan tanda-tanda orang yang akan memperoleh keutamaan Lailatul Qadar adalah sebagai berikut;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda: barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa melaksanakan puasa (shaum) Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” (HR. Al Bukhari).
Imam Al Bukhari meriwayatkan;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,: Barangsiapa menegakkan Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al Bukhari).
Hadis di atas diriwayatkan juga seperti ini;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا أُرَاهُ قَالَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
“Dari Abu Hurairah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Barangsiapa menegakkan (salat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar, lalu ia mendapatinya—menurutku ia mengatakan—dengan penuh keimanan dan pengharapan (akan pahala dari Allah), maka ia akan diampuni” (HR. Muslim dan Al Baihaqi).
Penjelasan Kalimat Hadis
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Kalimat ‘Qaama Lailatal Qadri’ berarti menghidupkan malam itu dengan beribadah atau dapat dimaknai juga menaati Allah pada malam itu.
Kata Imam An Nawawi;
(مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ) : هَذَا مَعَ الْحَدِيْثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ قَدْ يُقَالُ إِنَّ أَحَدَهُمَا يُغْنِي عَنِ الْآخَرِ وَجَوَابُهُ أَنْ يُقَالَ قِيَامُ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ مُوَافَقَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَعْرِفَتِهَا سَبَبٌ لِغُفْرَانِ الذُّنُوبِ ، وَقِيَامُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِمَنْ وَافَقَهَا وَعَرَفَهَا سَبَبٌ لِلْغُفْرَانِ وَإِنْ لَمْ يَقُمْ غَيْرَهَا
“Barangsiapa menegakkan (salat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar. Ini bersama hadis yang telah lalu: barangsiapa menegakkan (salat) di bulan Ramadhan. Terkadang dinyatakan bahwa salah satu di antara kedua hadis itu cukup mewakili satu sama lain. Dan jawabannya dapat dikatakan: ‘menegakkan (salat) di bulan Ramadhan tanpa mendapati malam Lailatul Qadar dan tidak mengetahuinya adalah penyebab diampuninya dosa dan menegakkan (salat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar bagi orang yang mendapatinya dan juga mengetahuinya adalah penyebab diampuninya dosa meskipun tidak menegakkan salat di luar malam itu” (Ad Dibaj ‘Ala Muslim II:336).
Penjelasan Kalimat
مَنْ يَقُمْ لَيْلَة الْقَدْر فَيُوَافِقُهَا
“Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah, lalu dia mendapatinya”
Kata Imam An Nawawi, kalimat;
فَيُوَافِقُهَا
Maknanya;
يَعْلَمُ أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
“Dia mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar” (Syarh Shahih Muslim III: 104).
Imam Al Iraqi berkata;
قُلْتُ إِنَّمَا مَعْنَى تَوْفِيْقِهَا لَهُ أَوْ مُوَافَقَتِهِ لَهَا أَنْ يَكُوْنَ الْوَاقِعُ أَنَّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ الَّتِيْ قَامَهَا بِقَصْدِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي نَفْسِ الأَمْرِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ هُوَ ذلِكَ
“Menurut saya, makna menjumpainya ialah bahwa pada hakikatnya malam itu yang ia menghidupkannya dengan tujuan mencari Lailatul Qadar benar-benar Lailatul Qadar, meskipun ia tidak mengetahuinya” (Tharh At Tatsrib fii Syarh At Taqrib IV:157).
Al Faqih Abu Hafsh Umar bin Ibrahim Al Hafizh berkata;
وَقَوْلُهُ: مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ القَدْرِ فَيُوَافِقُهَا
وَيَقُمْ فِي هذِهِ الرِّوَايَةِ يَعْنِيْ بِهِ يَطْلُبُ بِقِيَامِهِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَحِيْنَئِذٍ يَلْتَئِمُ مَعَ قَوْلِهِ: يُوَافِقُهَا لِأَنَّ مَعْنَى يُوَافِقُهَا: يُصَادِفُهَا، وَمَنْ صَلَّى فِيْهَا فَقَدْ صَادَفَهَا وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ الْمُوَافَقَةُ هُنَا عِبَارَةً عَنْ قَبُوْلِ الصَّلاَةِ فِيْهَا وَالدُّعَاءِ أَوْ يُوَافِقُ الْمَلاَئِكَةَ فِي دُعَائِهَا أَوْ يُوَافِقُهَا حَاضِرُ الْقَلْبِ مُتَأَهِّلاً لِحُصُوْلِ الْخَيْرِ وَالثَّوَابِ إِذْ لَيْسَ كُلُّ دُعَاءٍ يُسْمَعُ وَلاَ كُلُّ عَمَلٍ يُقْبَلُ فَإِنَّهُ : { إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ }
Dan sabdanya;
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ القَدْرِ فَيُوَافِقُهَا
“Barangsiapa menegakkan (salat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar, lalu ia mendapatinya”
Dan kata yaqum pada riwayat ini bermakna ‘siapa yang mencari Lailatul Qadar dengan salatnya’ dan ketika itu bersatu dengan perkataannya yuwafiquhaa, karena kalimat yuwafiquhaa bermakna menjumpainya, dan siapa yang melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar sungguh ia telah menjumpainya.
Kalimat yuwafiquhaa itu dapat dimaknai juga (a) bahwa salat dan doanya maqbul (diterima), (b) sesuai dengan malaikat dalam berdoa di malam itu, (c) menjumpainya dengan kehadiran hati yang pantas untuk memperoleh kebaikan dan pahala, sebab tidak setiap doa diijabah dan tidak setiap amal diterima, karena Allah hanya akan menerima dari orang-orang bertakwa.
Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa orang yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan ibadah akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Pencapaian ini setelah memenuhi persyaratan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala hanya dari-Nya. Adapun tanda-tanda orang yang mendapatkan kemuliaan malam itu, kata Imam Ath Thabari: tidak mesti melihat atau mendengar sesuatu.
Sebab tanda-tanda fisik seperti itu, kata beliau, bukanlah suatu kemestian. Menurut sebagian ahli ilmu, tanda-tanda itu berupa “tanda” batin atau rohani atau spiritualnya, yaitu pada malam tersebut orang Islam yang shaleh akan merasakan lapang hati dan memiliki kecenderungan menetapi ibadah kepada Allah. Wallahu A’lam.

