Selama bulan suci Ramadan, peran ulama sebagai pembina umat Islam tidak dapat ditinggalkan. Menjelang makan sahur, salat Subuh, buka puasa, sebelum salat Tarawih kita disuguhi ceramah, baik secara langsung atau melalui media-media tertentu (radio, televisi, atau lainnya). Siraman rohani selalu kita dengarkan di mana pun umat muslim berada.
Bulan Ramadan yang penuh berkah bukan hanya melatih mental dan kesabaran seseorang, namun bulan puasa ini juga berperan sebagai ‘Madrasah Al Shiyam’ (sekolah Ramadan) dalam mendalami ilmu agama. Mereka yang berprofesi ulama atau muballigh memiliki tanggung jawab moral terhadap kemajuan bangsa dan negara ini.
Walau demikian, di balik peran yang sangat membahagiakan itu, masih terdapat di antara mereka yang suka menebarkan bibit perpecahan, desktruftif, dan tidak menyuguhkan hidangan yang menyejukkan. Hal ini didasari karena pemahaman dan pendapat mereka yang harus dianggap selalu benar sedangkan yang lainnya salah.
Padahal, yang dikemukakannya merupakan masalah khilafiyah (furu’iyah) yang semuanya benar, menurut hakikat Islam, misalnya 4 adalah 2+2 atau juga 3+1=4. Maka dari itu, dengan uraian singkat ini, mudah-mudahan kita paham bagaimana seharusnya peran utama ulama dalam membina umat Islam di tengah situasi yang sangat sensitif seperti saat ini.
Kata ulama berakar dari huruf ‘Ain, Lam, dan Mim’ (‘alim jamaknya ulama) yang berarti orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang sangat dalam. Dalam Alquran hanya ditemukan dua ayat yang secara eksplisit menyebut kata ulama, yakni;
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Fathir 28).
Kemudian di dalam surat Asy Syu’ara ayat 197;
أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya” (QS. Asy Syu’ara 197).
Dari kedua ayat ini telah dipahami bahwa ulama merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan luas tentang ayat-ayat Allah. Baik yang bersifat kauniyah atau qur’aniyah atau pengetahuan umum dan agama. Jadi, menurut Alquran, semua yang memiliki ilmu kauniyah (umum), seperti dokter, insinyur, sarjana ekonomi, dan lainnya disebut ulama.
Demikian juga ilmu qur’aniyah (agama) seperti ahli tafsir, hadis, fiqih, juga disebut ulama. Tapi, bagi ilmu umum atau agama, keduanya memiliki syarat mutlak bersifat istislam (muslim) dan khasyyah (takut) kepada Allah. Maka persepsi sebahagian masyarakat awam bahwa ulama itu hanyalah mereka yang ahli dalam bidang agama.
Dengan demikian, ahli ilmu yang non muslim tidak takut kepada Allah, sekalipun misalnya menguasai ilmu agama, seperti orientalis, tidak berhak disebut ulama menurut kaidah Alquran. Begitu juga, sekalipun orangnya bergelar kiyai (sakti), manakalah tidak takut kepada Allah (misalnya suka berdusta, ghibah, dllnya), maka keulamaannya telah gugur (ulama su’).
Alquran menggarisbawahi ulama menjadi tiga bahagian: ulama zalim, ulama muqtasid (ulama pro aktif), dan ulama sabiq bi al khairat (terdahulu dalam kebaikan dan istiqomah). Allah berfirman dalam surat Al Fathir ayat 32;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (QS. Al Fathir 32).
Dan ulama urutan ketiga (sabiq) inilah yang patut disebut dengan warasatul anbiya’ atau pewaris para nabi-nabi. Sebenarnya, peran ulama sangat banyak dan peran mereka sama dengan nabi. Tapi peran utamanya, yaitu uswah (teladan), tabligh (manyampaikan pesan agama), amar ma’ruf nahi mungkar, dan tahkim (memberi solusi yang arif terhadap masalah).
Dari peran utama tersebut, niscaya peran tabligh (mubaligh) dan tahkim itulah yang paling urgen disampaikan, terutama di bulan suci Ramadan. Karena terkadang sebagian mubaligh masih ada yang suka menyampaikan pesan-pesan agama yang boleh dikatakan sangat fanatik terhadap paham yang dianutnya.
Akibatnya menimbulkan keresahan dan kegaduhan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Bahkan ada juga paham yang bertentangan dengan ajaran dasar Alquran dan sunnah. Sesungguhnya, Allah sudah menegaskan bahwasanya menyeru kepada manusia itu dengan sikap bil hikmah. Sebagaimana Allah firmankan;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Nahl 125).
Kearifan yang harus diperankan seorang ulama (mubaligh) haruslah tahkim (memberi solusi yang arif terhadap masalah). Dengan demikian peran utama ulama hendaknya tetap konsisten sebagai seorang teladan dalam menyampaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar untuk mempersatukan umat, serta membantu pemerintah dalam membangun peradaban bangsa.
Sejarah telah mengisahkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku manusia tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Terutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.
Ulama Pewaris Nabi
Sebagaimana firman Allah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya 107). Substansinya adalah, akhlak nabi yang sangat agung harus dipanuti oleh ulama dan umatnya. Yakni mengukuhkan komitmen, kesadaran, dan loyalitas kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada rasulullah. Bagi seorang mukmin kecintaan kepada rasulullah merupakan sebuah keniscayaan dan sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan kepada anak dan istri, harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya” (HR. Bukhari).
Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia rasulullah dalam setiap gerak kehidupan kita. Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab 21).
Mari mulai saat ini kita tanamkan keteladanan rasul ini dalam keseharian. Mulai hal terkecil hingga paling besar, mulai dari kehidupan duniawi hingga urusan akhirat. Tanamkan keteladanan rasul pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya. Sehingga anak-anak kita tidak menjadi pemuja figur publik yang berakhlak rusak yang ditonton melalui acara-acara televisi.
Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan rasulullah dan juga para nabi. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, rasul meninggalkan pesan pada umat yang teramat dicintainya ini. Beliau bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni kitabullah dan sunnah nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).
Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama dari masa ke masa. Mereka, para ulama adalah pewaris para nabi. Sebagaimana rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).
Sebagai umat Islam, selayaknyalah kita menyerahkan kepatuhan dan loyalitas kepada para ulama sebab ulama pewaris rasul dan pelanjut misi nabi Muhammad. Kepatuhan dan loyalitas tiada lain merupakan wujud ketaatan pada Allah dan rasul-Nya. Namun, kita layak prihatin, karena kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini, ulama kurang mendapat tempat di mata umat.
Bukan saja diacuhkan, ulama bahkan mulai mendapat hujatan dan hinaan di sana-sini. Naudzu billah min dzalik. Fenomena ini menjadi salah satu pertanda akhir zaman sebagaimana diprediksikan rasulullah dalam kitab Nashoihul ‘Ibad. Di sana dituliskan sebuah hadis yang memberikan gambaran tentang hal ini.
“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka lari dari ulama dan fuqaha, maka Allah pun menimpakan tiga bentuk cobaan. Pertama, Allah akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim. Ketiga, mereka akan keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman”.
Sebagaimana diperingatkan dalam hadis ini, ada tiga konsekuensi yang harus diterima umat jika mereka menjauhi para ulama. Pertama,Allah akan menghilangkan barakah (kenikmatan) dari penghasilan mereka. Bisa jadi, fenomena dewasa ini, krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah salah satu di antara imbas dari sikap menjauhi para ulama.
Mungkin, seseorang memiliki pekerjaan, berpenghasilan, akan tetapi ia jauh dari perasaan cukup, qanaah, dan rasa syukur. Padahal, masih banyak yang bernasib lebih buruk dan tragis darinya. Hingga yang muncul adalah perasaan egois, memikirkan kesejahteraan diri pribadi tanpa bersedia melihat dan meringankan penderitaan orang lain di sekitarnya.
Kedua, bahwa Allah akan menguasakan umat ini di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim, apakah akibat ini telah menimpa kita? Yang jelas, krisis politik dan krisis kepercayaan terhadap para pemimpin negeri ini selayaknya menjadi bahan renungan. Sebab kenyataannya, banyak konflik horisontal yang sering melanda bangsa ini bermula persoalan sepele.
Ketiga, meninggalkan dunia fana tanpa membawa iman, naudzu billah min dzalik. Inilah akibat paling fatal yang harus dikhawatirkan. Selanjutnya, ada beberapa bentuk tindakan menjauhkan diri dari ulama. Kebencian, penghinaan hingga hujatan adalah bentuk terburuk. Ibnu Hajar al Haytami melalui karyanya Az Zawajir menggolongkan sikap penghinaan sebagai dosa besar.
Dinukilkan dari hadis yang memperkuat pendapatnya ini, rasulullah bersabda: “Tiga golongan ini tidak akan diremehkan kecuali oleh orang munafik, yakni orang tua yang telah lama memeluk Islam, orang yang berilmu (ulama) dan pemimpin yang adil” (HR. Thabrani). Bentuk lain dari menjauhi ulama adalah keengganan memperdalam pengetahuan agama.
Hal ini sama juga dengan acuh terhadap keberadaan umat Islam. Ulama adalah pilar pokok tegaknya agama, di samping pilar lainnya. Jika dari masa ke masa, satu per satu ulama wafat, sementara penggantinya belum muncul, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti tak ada seorang pun di antara umat Islam yang tahu tentang kewajiban dan larangan dalam agama.
Hingga pada akhirnya, umat mendaulat seorang yang awam akan pengetahuan agama. Dia akan berfatwa tanpa berdasar pengetahuan, sesat dan menyesatkan. Persis seperti makna dan tafsiran hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari diri seorang manusia, akan tetapi dengan mencabut nyawa ulama. Hingga saat tidak tersisa seorang ulama pun, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya, dia ditanyai, lalu berfatwa tanpa berdasar ilmu, dia sendiri sesat lagi menyesatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salah satu solusi pemecahan krisis bangsa ini adalah kembali kepada ajaran Islam yang benar bagi pemeluknya. Kembali kepada ulama pewaris rasulullah, para ulama pengamal ilmu, dan pengabdi umat. Kita lestarikan misi dan ajaran mereka melalui regenerasi dan kancah tafaqquh fid din yang mereka asuh. Semoga, krisis yang menimpa ini segera berakhir. Wallahu A’lam.

