Sebagai manusia yang diamanahi khalifah di muka bumi, Allah sudah memberikan tuntunan melalui syariat agar dapat terwujud kehidupan yang teratur. Baik dalam hubungannya dengan Allah atau hubungannya dengan sesama manusia. Rasulullah sebagai uswatun hasanah harus menjadi panutan dalam kehidupan modern yang serba canggih ini.
Tasamuh dalam arti bahasa adalah sama-sama berlaku baik, lemah lembut, dan saling memaafkan (toleransi). Sedangkan dalam pengertian istilah, tasamuh adalah suatu sikap akhlak terpuji dalam pergaulan. Di mana rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang telah digariskan oleh Islam.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara diperlukan komunikasi tasamuh. Tasamuh dapat diimplikasikan ke dalam hal terhadap sesama muslim dan tasamuh terhadap non muslim. Tasamuh terhadap sesama muslim di antaranya adalah sikap saling tolong-menolong dalam kebaikan dan kemanfaatan.
Seorang mukmin terhadap orang mukmin lainnya keduanya memiliki hubungan bagaikan sebuah bangunan yang saling terkait. Artinya, seorang mukmin itu harus saling terpadu untuk tolong-menolong dan bantu-membantu demi kemaslahatan diri sendiri, tetangga, masyarakat, bangsa dan negara yang lebih luas cakupannya.
Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 2;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan mengganggu binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan juga mengganggu orang-orang yang mengunjungi baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka boleh berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al Maidah 2).
Bercerai-berai, saling mengecewakan, menjatuhkan, olok-olok, atau fitnah satu sama lainnya adalah perbuataan yang bukan Islami. Sikap ini tidak termasuk ajaran Islam sama sekali. Tolong-menolong adalah ruh Islam dan merupakan kekuataan umat Islam dalam menjalankan syariat agamanya dengan benar dan lurus.
Apabila umat Islam hidup sendiri, saling acuh tak acuh satu sama lain, saling meremehkan ikatan ukhuwah Islamiyah dan masing-masing pribadi memperturutkan hawa nafsunya, maka di situlah letaknya kelemahan. Di sinilah musuh-musuh Islam bisa menggoyang kekuatan Islam lalu memecah-belah persatuannya.
Di dunia mereka akan tercerai-berai dan hina serta ketika wafat rugi di akhirat. Sesungguhnya serigala itu akan memangsa kambing yang ditinggalkan jauh oleh kelompoknya yang menyendiri dari gerombolannya. Sungguh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan gambaran persatuan umat Islam dan sikap tolong-menolong kepada sesamanya.
Di dalam surah Al Munafiqun ayat 8, Allah menegaskan;
يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Mereka berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” (QS. Al Munafiqun 8).
Oleh karena itu, untuk memperoleh kemuliaan sejati, syariat Islam melarang pemeluknya menganiaya, dilarang merendahkan orang lain, dan dilarang menghina. Cukup seseorang dianggap jelek sendiri apabila dia menghina saudaranya sesama muslim. Seharusnya kita mengembangkan sikap tolong-menolong dalam hal kebajikan dengan tulus dan ikhlas.
Dalam Islam tidak hanya menekankan perilaku baik atau toleransi terhadap sesama muslim saja, akan tetapi juga diwajibkan berbuat baik dan menghargai terhadap non muslim. Dalam kehidupan rasulullah, beliau bermasyarakat dan senantiasa bersikap tasamuh, baik ketika berada di Makkah maupun ketika di Madinah.
Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan kaum Yahudi dengan piagam Madinah. Dengan piagam Madinah tersebut dipersatukan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Yakni dengan sikap saling menghargai dan bersatu-padu dalam membela negara yang dilandasi sikap kasih sayang.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya” (HR. Muslim No. 4697).
Untuk tegaknya rasa keamanan dan kedamaian dalam masyarakat, sifat toleransi antara umat Islam dan non Islam harus ditopang dengan sifat cinta kasih terhadap sesama. Jika sifat rahmat atau kasih sayang menjadi ahlak kehidupan sehari-hari, maka kita akan dikasihsayangi oleh seluruh manusia dan mendapatkan kasih sayang dari Allah.
Jika manusia tidak memiliki rasa kasih sayang, maka cenderung kepada sikap kejam. Jika kekejaman sudah menjadi akhlak, maka akan ditimpakan Allah suatu musibah dan penderitaan akibat tidak adanya lagi tasamuh (toleransi). Demikian juga Allah akan mencabut rahmat-Nya, sehingga kehidupan di dunia hanya penderitaan dan kesempitan.
Untuk itu, marilah saatnya ditumbuhkan dalam diri kita rasa kasih sayang, baik terhadap sesama muslim atau kepada non muslim dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini. Tasamuh (toleransi) itu tidak hanya untuk sesama umat Islam saja, tetapi untuk agama lain juga. Perhatikan firman Allah;
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Mumtahanah 8-9).
Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik kepada selainnya selama tidak ada sangkut-pautnya dengan hal-hal agama.
Negara kita telah menjamin dan mengakui lima agama. Di mana pemeluknya bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Dalam hal ini, rasulullah sudah melaksanakan tolerasi dalam mengimplementasikan ajaran agama serta tetap komitmen dalam hal akidah. Seperti firman Allah dalam surat Al Kafirun ayat 1-6;
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Katakanlah: Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al-Kafirun 1-6).
Islam sudah mengariskan kepada umatnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat di antaranya dengan menumbuhkan sikap tasamuh. Baik terhadap umat Islam sendiri atau terhadap non muslim. Untuk itu, umat Islam hendaknya tetap eksis dengan memupuk sifat tolong-menolong yang merupakan ruh Islam dalam rangka memperkokoh ukhuwah Islamiyah.
Dengan sifat tasamuh akan memupuk rasa persaudaraan, sehingga menciptakan hidup yang damai dan penuh dengan kasih-sayang. Sifat tasamuh merupakan suatu perintah yang bernilai ibadah apabila kita bisa menjalaninya sehari-hari dengan tulus dan ikhlas. Wallahu A’lam Bi Al Shawab.

