Ketetapan Allah (qadha) bisa berubah dengan sejumlah amal kebaikan. Artinya, jika kita melakukan amal kebaikan, maka qadha yang buruk yang akan menimpa kita akan dihapuskan oleh Allah. Manusia berusaha biarlah Allah yang menentukan. Begitulah makna dari kepasrahan yang tulus kepada Allah (tawakal).
Untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, manusia diperintahkan untuk senantiasa berdoa, berusaha, dan berserah diri kepada Allah (bertawakal). Di balik sikap berserah diri itu, kewajiban berdoa dan berusaha lahir agar tujuan atau rencana yang sudah ditargetkan bisa tercapai dengan kehendak dan ridha Allah.
Dengan berdoa dan berusaha, setiap manusia akan melewati hambatan, tantangan, rintangan, dan ujian yang hakikatnya akan diterima kebahagiaan yang sesungguhnya. Allah menegaskan di dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 186 tentang bentuk ikhtiar yang sangat dianjurkan, yakni dengan berdoa yang sungguh-sungguh.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku (Allah), maka jawablah, bahwasanya Aku adalah sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah186).
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan menyaksikan seluruh kegiatan manusia serta seluruh isi alam semesta sekaligus mengabulkan setiap permohonan doa-doa dari hambanya yang soleh. Secara harfiah, arti doa berarti memohon, berharap, meminta, dan menggantungkan hati serta harapan kita hanya kepada Allah.
Dengan kata lain, doa bisa juga berarti mengajak atau mengundang sesuatu yang didoakan agar datang atas izin Allah. Doa yang berarti permohonan mekanismenya melakukan permohonan langsung kepada Allah agar diberikan kebaikan, keberkahan, kemudahan, kesehatan, dan jalan keluar dari kesulitan yang mendera hidup kita.
Sementara doa yang berarti mengundang hadir atau mengajak dilakukan dengan cara menghadirkan arti-arti sifat Allah yang berjumlah 99 nama (Asmaul Husna) pada setiap perilaku kita sehari-hari. Hal ini dijelaskan dalam Alquran surat Al A’raf ayat 180;
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah asmaa’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al A’raf 180).
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ بَهْرَامَ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ الدِّمَشْقِيَّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami (‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman bin Bahram Ad Darimi); Telah menceritakan kepada kami (Marwan) yaitu Ibnu Muhammad Ad Dimasyqi; Telah menceritakan kepada kami (Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz) dari (Rabi’ah bin Yazid) dari (Abu Idris Al Khalwani) dari (Abu Dzar) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam meriwayatkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berbunyi: ‘Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan di antara kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu saling berbuat zalim! Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kesesatan, kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu! Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Aku beri makan. Oleh karena itu, mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan! Hai hamba-Ku, kamu sekalian telanjang dan tidak mengenakan sehelai pakaian, kecuali orang yang Aku beri pakaian. Oleh karena itu, mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu pakaian! Hai hamba-Ku, kamu sekalian senantiasa berbuat salah pada malam dan siang hari, sementara Aku akan mengampuni segala dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya aku akan mengampunimu! Hai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan marabahaya sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya. Selain itu, kamu sekalian tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya. Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi, maka hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku. Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta jin dan manusia semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk, maka hal itu sedikitpun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku. Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan. Hai hamba-Ku, sesungguhnya amal perbuatan kalian senantiasa akan Aku hisab (dihitung) untuk kalian sendiri dan kemudian Aku akan berikan balasannya. Barang siapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan barang siapa yang mendapatkan selain kebaikan maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri” (HR. Muslim No. 4674).
Doa yang dilakukan dengan baik dan benar maka permohonannya akan memiliki kekuatan serta daya ubah yang sangat luar biasa. Maka dari itu, setiap doa yang baik akan senantiasa dikabulkan Allah. Seseorang akan bertambah umurnya dan berubah takdirnya dengan kebaikan dan doa sebagaimana hadis rasulullah;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
Artinya:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Tidaklah akan bertambah umur seseorang kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan dapat menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rezekinya karena dosa yang dia lakukan” (HR. Ibnu Majah No. 4012).
Dalam doa terbagi menjadi tiga pengabulan, antara lain;
1. Doa seorang hamba akan langsung dikabulkan oleh Allah
2. Doa akan ditunda oleh Allah yang kemudian akan dikabulkan pada lain waktu atau nanti diberikan di akhirat
3. Doa akan digantikan Allah dengan hal lain yang menurut Allah lebih baik, misalnya terhindar dari bencana (karena sesuatu yang menurut manusia baik belum tentu baik bagi Allah)
Di antara doa yang Allah ajarkan dalam Alquran dan umat Islam sering melupakannya adalah doa sapu jagat yang termaktub dalam surat Al Baqarah 201;
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah 201).
Jika kita amalkan sehari-hari setiap saat, doa di atas memiliki faidah yang sangat agung. Doa ini juga disyariatkan dibaca dalam segala kondisi apapun. Terdapat kondisi-kondisi tertentu di mana doa ini dipanjatkan, seperti ketika thawaf di Ka’bah yakni saat berada di antara Ar Rukun Al Yamani dan Al Hajar Al Aswad (HR. Abu Dawud).
Selain itu, ketika selesai menunaikan rangkaian ibadah haji sebagaimana ditunjukkan dalam Al Baqarah 200:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Artinya:
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau bahkan berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia” dan tiadalah baginya bahagian yang menyenangkan di akhirat” (QS. Al Baqarah 200).
Dibaca ketika ditimpa musibah sebagaimana disebutkan dalam hadis Anas Radhiallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.
Artinya:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menjenguk seorang sahabat yang telah kurus bagaikan anak burung (karena sakit). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: Apakah kamu berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah? Ia berkata: Ya, aku berdoa (meminta) kepada Allah: Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Subhanallah, kamu tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa kamu tidak mengucapkan: Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari azab neraka. Maka orang itupun berdoa dengannya. Allah pun menyembuhkannya” (HR Muslim No. 4853).
Kata Rabb merupakan seruan atau panggilan yang mengandung pengakuan dari hamba terhadap keesaan Allah karena Dia-lah semata yang memelihara segala urusan hamba-Nya, Dia-lah yang memperbaiki seluruh perkara dunia dan akhirat mereka, Dia-lah semata yang memberikan taufik, yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Ucapan ini menunjukkan betapa butuhnya hamba kepada Allah, mereka tidaklah mampu mengurus diri mereka tanpa adanya bantuan dari Allah, tidak ada yang mampu menolong dan memperbaiki segala urusan mereka kecuali Allah. Dengan demikian, ketika bermunajat dengan mengucapkan panggilan ini, seorang hamba seyogianya menghadirkan hatinya.
Menginginkan kebaikan duniawi semata adalah ciri bagi mereka yang bercita-cita rendah karena pada ayat sebelumnya. Allah menyebutkan perihal golongan yang meminta kebaikan di dunia tanpa meminta kebaikan di akhirat. Allah menegaskan di akhirat kelak tidak akan ada bagian kebaikan bagi mereka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Artinya:
“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia” dan tiadalah baginya bahagian yang menyenangkan di akhirat” (QS. Al Baqarah 200).
Terkabulnya keinginan duniawi bersifat terbatas, Allah hanya akan memberikan kebaikan di dunia dengan sesuatu yang Dia kehendaki dan hanya diberikan kepada mereka yang diinginkan Allah.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ
Artinya:
“Barangsiapa yang menginginkan balasan yang segera, maka Kami akan menyegerakan balasan itu untuknya di dunia dengan apa yang kami kehendaki, bagi siapa yang Kami inginkan” (QS. Al Israa’18).
Makna kebaikan di dunia berdasarkan permohonan ayat di atas mencakup seluruh keinginan duniawi. Baik berupa kesehatan, rumah yang lapang, istri yang cantik, rezeki yang melimpah ruah, ilmu yang bermanfaat, amal soleh, anak-anak yang taat, kendaraan yang mewah, pujian, atau yang selainnya (tafsir Ibn Katsir 1/343).
Sedangkan kebaikan di akhirat tentulah yang dimaksud adalah al jannah (surga) karena mereka yang tidak dimasukkan ke dalam surga sungguh telah diharamkan untuk memperoleh kebaikan di akhirat (tafsir Ath Thabari 1/553). Termasuk juga di dalamnya adalah rasa aman dari rasa takut ketika persidangan di hari kiamat dan kemudahan ketika segala amalan dihisab (tafsir Ibn Katsir 1/342).
Ucapan وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ merupakan permintaan hamba agar dilindungi dari siksa neraka sekaligus menunjukkan bahwa dirinya memohon segala sebab agar dirinya dijauhkan dari siksa neraka dipermudah oleh Allah. Yaitu dengan menjauhi segala bentuk keharaman, dosa, dan meninggalkan perkara yang syubhat atau samar hukumnya (tafsir Ibn Katsir 1/342).
Seruan ini juga mengandung permohonan agar Allah tidak memasukkan hambanya ke dalam an naar (neraka) karena maksiat yang telah dikerjakannya untuk kemudian dikeluarkan dengan adanya syafa’at (tafsir Al Qurthubi 1/786).
Betapa jauhnya kedudukan dan keutamaan antara kedua golongan tersebut, golongan yang menginginkan kebaikan akhirat dan golongan yang menginginkan kebaikan duniawi semata. Sebab pada ayat selanjutnya Allah menggunakan isim isyarah lil ba’id (kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh), yaitu أولئك dalam firman-Nya:
أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَاب
Artinya”
“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian daripada yang mereka usahakan dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS. Al Baqarah 202).
Artinya, kendati lafaz doanya pendek atau ringkas namun hakikat kandungan doa ini mencakup seluruh kebaikan dunia dan akhirat. Maka dari itu, prioritas utama seorang hamba dalam doanya adalah untuk perkara akhirat yang kekal abadi. Terdapat dua permohonan, yaitu kebaikan akhirat dan perlindungan dari siksa neraka, dan hanya satu permohonan dunia.
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ صُهَيْبٍ قَالَ سَأَلَ قَتَادَةُ أَنَسًا أَيُّ دَعْوَةٍ كَانَ يَدْعُو بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا يَقُولُ اللَّهُمَّ { آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ } قَالَ وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ
Artinya:
“Telah menceritakan kepadaku (Zuhair bin Harb) telah menceritakan kepada kami (Isma’il bin ‘Ulayyah) dari (Abdul Aziz) yaitu lbnu Shuhaib dia berkata: Pada suatu ketika, Qatadah pernah bertanya kepada Anas: Hai Anas, doa apa yang sering diucapkan Rasulullah? (Anas) menjawab; ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sering membaca doa yang berbunyi: ‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka’. Perawi hadis ini berkata; ketika Anas hendak berdoa, maka dia senantiasa membaca doa tersebut. Dan ketika ia hendak membaca doa yang lain maka ia selalu menyertakan doa tersebut” (HR. Muslim No. 4855).
Di antara ciri doa yang baik adalah mengandung permintaan yang mengumpulkan sikap raghbah (meminta pahala atau kebaikan) dan rahbah (menghindar dari siksa). Sehingga seorang hamba mampu menyeimbangkan antara rasa rajaa (mengharap pahala) dan khauf (takut akan siksa).
Betapa pentingnya doa yang bersumber dari kitabullah (Alquran) karena meski dengan lafaz yang singkat tapi makna yang terkandung di dalamnya mencakup seluruh keinginan hamba-Nya. Baik perkara-perkara di dunia maupun akhirat. Wallahu A’lam Bish Shawab.

