CENTRALBATAM.CO.ID, BINTAN-Penyidikan penangkapan 1,037 ton sabu pada 7 Februari 2018 yang diangkut dengan kapal ikan berbendara Singapura dengan nama Sunrise Glory di Selat Philip perairan Batam telah selesai dan berkas perkara telah dinyatakan lengkap (P-21).
Penyidik BNN pun menyerahkan empat tersangka dan barang bukti kepada Kejaksaan Agung RI yang merupakan tahap II, untuk proses hukum selanjutnya. Penyerahan atau pelimpahan itu berlangsung di komplek Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan Kapal Perang TNI AL Mentigi, Tanjunguban, Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Senin (4/6/2018).
“Penyerahan ini merupakan tahap II barang bukti dari kita kepada Tim Jaksa Penuntut Umum Kejagung RI melalui Kejari Batam,”kata Kepala BNN Kepri Heru Winarko.
Untuk tahap I, kata Heru tepatnya pada Jumat (4/5/2018), Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Ketua DPR RI, Ketua DPD RI, Menteri Kesehatan, Kabareskrim Polri, memimpin pemusnahan barang bukti sabu tersebut di silang Monas, Jakarta Pusat.
Heru menyebutkan BNN akan terus bekerja ekstra mengungkap mata rantai lebih dalam kejahatan narkotika asal negeri Taiwan, walaupun kasus yang ditangani ini rampung. Pada pertengahan April 2018 lalu, markas pembuatan ilegal sabu di Taiwan dibongkar aparat setempat. Namun pembongkaran markas pabrik sabu di Taiwan tersebut bukan berarti menghentikan langkah BNN untuk mengungkap lebih dalam kasus sabu asal Taiwan.
“Dimana orang orang tersebut mengirim. Siapa yang koordinatornya di sana, ini yang tengah kita jajaki bersama dengan aparat kepolisian Taiwan,” ujar Heru.
Menurut Heru, BNN menerima informasi dari kepolisian Taiwan seminggu lalu, bahwa ada aksi penggagalan pengiriman kembali sabu asal negeri tersebut dari Taiwan. Tampaknya, penangkapan bertubi-tubi narkotika jenis sabu dalam jumlah ton di Indonesia pada Februari 2018 lalu tidak membuat surut para sindikat Taiwan untuk kembali melakukan aksinya di Indonesia.
“Beberapa minggu lalu informasi yang kita dapatkan dari Kepolisian Taiwan ada penggagalan pengiriman lebih kurang 800 kilogram jenis sabu rencana ke sini (Indonesia red),” katanya.
Sulitnya memberantas aksi pengiriman sabu asal Taiwan ini bisa jadi disebabkan beberapa hal. Diantaranya, para mafia narkotika di negara tersebut terbagi-bagi dalam geng-geng yang saling terpisah. Para geng pembuat sabu ini memiliki produk racikan sabu berbeda-beda. Dan masing masing berlomba-lomba mengirimkannya ke luar Taiwan termasuk Indonesia.(ndn)
