CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Ferry Yendra terus membantah menggunakan cek atau giro kosong saat membayar pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kepada PT Majesty Prosperindo.
“Saya tidak tahu kalau cek tidak ada saldo. Yang tandatangan di cek itu saya dengan direktur utama. Tapi saya memang tidak tahu kalau cek itu saldonya tidak mencukupi,” kata Ferry Yendra menjawab pertanyaan Majelis Hakim dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam.
Dalam sidang itu Ferry Yendra sebagai terdakwa dalam perkara penggelapan, mengatakan meyakinkan bawha dirinya sebagai direktur PT Antartika Prima Lautan terus meyakinkan Majelis Hakim bahwa dirinya tidak mengetahui kalau cek tersebut kosong saldonya.
“Saya bukan sengaja untuk menipu, tapi memang saya tidak tahu kalau cek itu saldonya tidak mencukupi,” katanya.
Perkara ini berawal pada September 2014, saat saksi Mulyadi yang bekerja sebagai marketing PT.Majesty Prosperindo yang bergerak dibidang suplyer solar industri bertemu dengan Masrul Malik sebagai marketing di PT Antartika Prima Lautan yang bergerak di bidang jasa transportasi laut berupa fery penumpang.
Masrul Malik mengatakan bahwa kapal sudah beroperasi dan akan memesan minyak kepada PT. Majesty Prosperindo .
Selanjutnya pada Oktober 2014 Masrul Malik memperkenalkan terdakwa Ferry Yendra sebagai Direktur PT Antartika Prima Lautan dan saksi Alfis Indra. Pada saat pertemuan tersebut Fery Yendra menyakinkan saksi Mulyadi, untuk melakukan pemesanan solar kepada PT Majesty Prosperindo pembayaran akan dilakukan setelah 2 (dua) minggu setelah pengisian.
Selanjutnya Ferry Yendra mengajak saksi Masrul Malik ke pelabuhan Harbour Bay dan menunjukkan kapal penumpang milik PT Antartika Prima Lautan. Kemudian Mulyadi yakin dan percaya selanjutnya memberitahukan kepada management PT Majesty Prosperindo bahwa pihak PT Antartika Prima Lautan hendak memesan solar.
Kemudian pada 13 November 2014 Ferry Yendra minta Masrul Malik mengirimkan PO (purcase order). Setelah menerima dan memproses seluruh PO tersebut di Managemen PT Majesty Prosperindo, selanjutnya Masrul Malik mengirimkan solar.
Sebanyak 36000 liter langsung melakukan pengisian solar ke beberapa kapal milik PT Antartika Prima Lautan. Kemudian harga per liter Rp 10.250 sehingga total keseluruhan Rp 369 juta.
Setelah 14 hari pengiriman solar sesuai kesepakatan, Mulyadi melakukan penagihan. Tapi pada saat itu Ferry Yendra belum bisa melakukan pembayaran dengan alasan masih mengurus cek dan kemudian pada 3 Januari 2015 Ferry menyerahkan cek Bank BNI nomor C0556377 senilai Rp 300 juta kepada managemen PT. Majesty Prosperindo.
Pada 5 Januari 2015 pihak PT. Majesty Prosperindo melakukan kliring ke melalui Bank Panin, namun cek tersebut tidak dapat dicairkan karena dana tidak ada.
Mengetahui hal tersebut Mulyadi menghubungi terdakwa karena cek yang diberikan oleh Ferry, tidak dapat dicairkan karena dana tidak ada. Selanjutnya, Ferry menyampaikan untuk menunggu dana masuk dari PT Antartika Prima Lautan pada 23 Januari 2015.
Kemudian pada 23 Januari 2015 kembali hendak mencairkan cek ke Bank Panin. Namun pihak Bank Panin menerbitkan Surat Keterangan Penolakan (SKP) pada 5 Januari 2015 dengan alasan sldo tidak mencukupi.
Atas surat tersebut Mulyadi kembali menghubungi Ferry. Ferry pun mengirim surat akan melakukan pembayaran secara bertahap yaitu pada akhir Pebruari pembayaran sebesar Rp 69 juta dan pertengahan Maret sebesar Rp 150 juta. Kemudian pertengahan April 2015 sebesar Rp150 juta.
Selanjutnya, pada 29 April 2015 cek tersebut kembali dikliring berdasarkan surat yang dikirim oleh Ferry. Namun pihak Bank tetap menyatakan bahwa dana tidak ada dan terdakwa juga tidak dapat dihubungi untuk melakukan pembayaran.
Atas perbuatannya, Ferry diancam pidana dengan Pasal 378 jo 372 KUHP.
