CENTRALBATAM.CO.ID, BATAM-Gubernur Kepri maupun Bank Indonesia (BI) memiliki kesamaan pemikiran, bahwa keberadaan penukaran mata uang asing mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bisnis penukaran mata uang asing ini, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia pariwisata.
“Kontribusi sektor pariwisata bagi perekonomian nasional mencapai 11,59 miliar dolar AS tahun 2013. Tahun 2014 meningkat. Kegiatan usaha penukaran valutas asing (kupva) ini harus ditata agar lancar, aman, terhindar dari kegiatan yang tak diinginkan,” ujar Deputi Gubernur BI, Ronald Waas dalam musyawarah nasional (munas) dan musyawarah provinsi (musprov) Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) di Kantor Perwakilan BI Kepri di Batam, Sabtu (13/8/2016).
Munas dan Musprov APVA tersebut dibuka Gubernur Kepri, Nurdin Basirun. Terpilih sebagai Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) APVA Datok Amat Tantoso. sedangkan Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) APVA Provinsi Kepri Lusi Wong.
Gubernur dalam amanatnya sebelum pelaksanaan pleno munas, secara tidak langsung sudah memberikan arahan kepada peserta munas dari berbagai BPD provinsi di Indonesia tersebut.Â
“Dalam pelaksanaan munas, biasanya yang terpilih ketua adalah tuan rumah. Kalaupun BPD Kepri terpilih menjadi Ketua BPP APVA, bapak dan ibu kalau mau ke Singapura, sudah punya pengurus di Batam yang siap melayani. Saya tahu betul, orang Kepri itu loyal,” kata Gubernur yang disambut tepuk tangan peserta.
Saat rapat pleno pemilihan Ketua DPP APVA di ruang kliring lantai 1 Kantor BI Kepri, sebenarnya ada dua kandidat calon ketua yakni dari BPD Kepri Datok Amat Tantoso dan BPD Bali Made. Namun, dipertengahan jalan Made menyerahkan dukungannya pada Datuk Amat Tantoso, sehingga secara aklamasi Datuk Amat Tantoso terpilih sebagai ketua.Â
Sementara di lantai 3 ruang serbaguna tempat pelaksanaan Musprov BPD APVA Provinsi Kepri, Lusi Wong terpilih secara aklamasi. Sistem pemilihan, setiap peserta musprov boleh mengajukan diri menjadi calon ketua melalui sidang pleno yang dipimpin I Wayan Cetrayasa. Namun, hanya Lusi Wong saja yang diusulkan peserta, sehingga Wayan mengetok palu Lusi Wong yang menjadi ketua.
Usai agenda pemilihan Ketua BPP APVA dan Ketua BPD APVA Provinsi Kepri, diisi talkshow dengan narasumber Kepala Divisi Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Siti Hidayati dan mantan Ketua BPP APVA Muhammad Idris.
Siti Hidayati dalam pemaparannya juga mengatakan, antara pariwisata dan penukaran mata uang asing sangat berkaitan. Ia mencontohkan tingkat kunjungan pariwisata di Indonesia terbesar yaitu Bali, Jakarta, dan Kepri. Sedangkan penukaran mata uang asing terbesar di Indonesia yaitu Jakarta, Bali, dan Kepri.Â
“Triwulan pertama 2016 ini, transaksi penukaran mata uang asing di Kepri mencapai Rp800 miliar. Namun, dalam kegiatan penukaran mata uang asing ini harus melakukan prinsip kenal nasabah yakni mencatat identitas nasabah dan melaporkannya,” ujar Siti.
Prinsip kenal nasabah dalam kegiatan bisnis penukaran mata uang asing, kata Siti, untuk menghindari aliran dana terorisme, narkoba, korupsi, dan pencucian uang.
“Itulah sebabnya BI sebagai pengawas APVA, melakukan kerja sama dengan kepolisian, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan pihak-pihak lainnya,” ucapnya.
Gubernur pun menyadari peran APVA untuk menunjang pariwisata ini. Itulah sebabnya, Gubernur menantang pedagang valuta asing membuka kantor di Natuna untuk mengembangkan wisata maritim.

“Natuna itu keindahan alam baharinya luar biasa. Kalau pedagang mata uang asing membuka cabang di sana, wisatawan akan berlomba-lomba ke sana. Sebab, pemerintah mensyaratkan setiap transaksi harus menggunakan rupiah,” ujar Gubernur.Â
Datok Amat Tantoso usai terpilih, mengajak semua anggota APVA di seluruh Indonesia bekerja sama. Dirinya apalagi orang daerah, tentu tak bisa kerja maksimal tanpa dukungan dari pengurus dan anggota BPP APVA.
“Apa yang menjadi kendala harus kita dudukkan dan bicarakan bersama. Kami juga harapkan pembinaan dari BI selaku pengawas serta instansi terkait. Ini semua intinya membangun Indonesia yang bermartabat dengan kestabilitasan ekonomi melalui stabilitas kurs,” ujar Datok Amat Tantoso.
Dalam waktu dekat, kata Datok Amat Tantoso, langkah pertama yang dilakukan yakni konsolidasi organisasi untuk kesamaan gerak dan pandangan.
“Kami menguncapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan anggota APVA. Kasih kami masukan untuk membangun organisasi, serta tegur kami jika ada salah,” ucapnya.
