BERBAGI
Ketua Yayasan Ashabul Yamin Batam, Ustaz Asep Yaya (paling kiri) membantu Ketua Perkumpulan Pemuda Kampar Batam (P-PKB) Wirlisman (ketiga dari kiri) membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak panti asuhan Yayasan Ashabul Yamin Batam, Jumat (11/5/2018) pukul 11.35 WIB.

Ada pelajaran yang patut dijadikan contoh bagi umat Islam selama Ramadan. Jika mereka pernah melaksanakan umrah di bulan Ramadan ada sesuatu yang berbeda. Yang sangat terasa ketika akan berbuka puasa dan salat Tarawih. Di Makkah dan Madinah, menjelang berbuka puasa ratusan pesedekah berebut tempat (lapak) di masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah.

Seluruh dermawan berebut tempat untuk membagikan sedekahnya. Jika kita akan memasuki kedua pintu masjid agung di sana, banyak petugas sudah berkumpul dan berebut membagikan takjil kepada jemaah. Isinya bervariasi, mulai dari kurma, roti, susu, atau nasi kotak berisi lauk pauk yang lezat. Meski yang diberi takjil itu sudah mendapat bagian, petugas tetap memaksa jemaah agar menerimanya.

Di tanah air, hanya ada beberapa masjid agung (besar) yang menyediakan takjil dengan aneka makanan lezat setiap harinya. Perbedaannya, di tanah suci jumlah pesedekah sangat banyak. Hampir setiap hari di bulan Ramadan, orang berduyun-duyun secara mandiri membagikan takjil. Banyak yang membawa mobil-mobil besar berisi kurma, roti, susu kaleng Marogi, minuman jus buah, dan pisang Mesir.

Intinya, di tanah suci, menu buka puasa disajikan dengan aneka makanan yang lezat dan menggugah selera. Masing-masing jemaah yang ingin berbuka bisa memilih lokasi yang paling disukai. Sebelum azan Magrib berkumandang, satu jam sebelum berbuka puluhan ribu jemaah duduk berzikir sambil menanti waktu azan tiba. Hanya saja, bedanya di sana tidak ada kultum menjelang buka puasa.

Beberapa waktu lalu ketika saya diberi kesempatan Allah untuk umrah pertengahan Ramadan selama 14 hari, nyaris setiap menjelang Magrib, jemaah dari seluruh dunia menikmati momen ini. Lucunya, ada jemaah kita yang sengaja membawa kantong plastik (kresek) untuk mengantongi takjil yang dibagi-bagikan petugas. Sampai penuh isinya lalu dibawa pulang dan dibagikan ke sesama jemaah lainnya di hotel.

Momentum Ramadan hanya terjadi setiap tahun. Umat Islam setiap 30 hari dididik supaya menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Salah satunya dengan berderma atau membagikan sedekah kepada orang lain. Jika dikaji lebih dalam, banyak sekali firman Allah yang memerintahkan umat Islam untuk berderma (sedekah). Perintahnya untuk bersedekah dan bukan untuk menerima (mencari-cari) sedekah.

Allah menyuruh setiap orang Islam, baik kondisinya lapang atau sulit untuk berderma kepada sesamanya. Sebagaimana perintah-Nya; yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit (tafsir surat Ali Imran 134). Esensinya, umat Islam diminta sama Allah untuk bersedekah saat kondisi ekonominya sulit (berkecukupan) atau kaya (berlebih).

Apalagi selama bulan Ramadan yang memiliki keagungan dibandingkan dengan bulan lainnya. Tentu saja agar bisa memenuhi perintah Allah itu, perlu ditumbuhkan keyakinan yang mendalam. Sejatinya, setiap amalan yang dilakukan manusia hakikatnya untuk dirinya sendiri. Jika kita bersedekah kepada sesama atau binatang sebenarnya orang itu sedang melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Hanya persoalan waktu saja balasan berlipat-lipat dari Allah akan diberikan di dunia bagi mereka yang sudah bersedekah. Toh jika tidak diterima di dunia, kelak akan didapatkan di akhirat. Belajar dari pengalaman yang ada, menjadi manusia yang senang berderma tidak bisa dimulai dengan tiba-tiba. Harus ada proses belajar yang berkelanjutan. Salah satu caranya dengan menanamkan keyakinan dalam hati.

Keyakinan kuat ini akan memberikan stimulan kepada otak untuk tidak memikirkan efek dari derma itu sendiri. Logikanya, jika kita berderma maka otak akan merespon pendapat lain. Yaitu dengan membagikan sesuatu kepada orang lain maka akan berkurang apa yang kita miliki. Begitulah cara otak manusia menangkap atau mengurai sesuatu hanya dengan apa yang bisa dilihat melalui panca inderanya.

Padahal jika kita membuka tafsir surat Saba’ ayat 39 Allah sudah menjanjikan; dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (dermakan), maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. Ayat ini tidak bisa dicerna dengan otak dan diinderai dengan mata yang nyalang. Tetapi harus dijadikan sebuah keyakinan hakiki dalam hati kita.

Oleh sebab itu, selama Ramadan ini kita diberikan kesempatan luas untuk berbuat baik dan berderma kepada sesama makhluk hidup. Jangan menunggu besok karena kita tidak pernah tahu sampai kapan usia kita. Apakah harus menunggu Ramadan tahun depan supaya bisa berderma? Atau kita menunggu jadi orang kaya raya dulu baru bersedekah? (Candra P. Pusponegoro/Pemimpin Redaksi www.centralbatam.co.id)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY