BERBAGI
Ritual Menyeramkan, Bawa Kepala Musuh Sebagai Syarat Untuk Meminang Calon Pengantin

CENTRALBATAM.CO.ID – Negara Indonesia memiliki beragama kebudayaan. Ada banyak suku serta budaya dan sejarah dari setiap daerah di Indonesia.

Tak sedikit dari tradisi dari suku tertentu terdapat ritual unik serta ekstrem.

Satu di antaranya seperti suku di Kalimantan ini, masyarakat di sana menganut tradisi yang menyeramkan.

Pada zaman dahulu suku-suku di Kalimantan memiliki kebiasaan memotong kepala.

Kepala korbannya dijadikan sebagai sebuah piala untuk tujuan ritual.

Dilansir dari The Culture Trip ada alasan-alasan dan tujuan tersendiri kenapa ritual perburuan kepala sempat menjadi sebuah budaya di Kalimantan.

Pengayauan di Kalimantan

Budaya perburuan kepala manusia sempat ramai dilakukan pada sekitar satu abad yang lalu.

Suku-suku di Kalimantan seperti Iban Sarawak, Saburut Murut dan Kadazan-Dusun membawa kengeriaan bagi para penjajah Inggris yang pertama kali datang ke pulau Kalimantan.

Bahkan saking ngerinya, Ratu Inggris, Victoria memberi julukan Kalimantan sebagai Kalimantan Barbaric.

Beberapa suku di Kalimantan sering mengumpulkan kepala prajurit untuk dibawa pulang sebagai piala bukti bahwa mereka memenangkan suatu peperangan.

Tengkorak yang digantung di atap rumah

Tengkorak yang digantung di atap rumah (Ambar Purwaningrum)

Sedang di kebudayaan yang lain, membunuh dan membawa kepala musuh adalah sebuah syarat untuk bisa meminang calon pengantin.

Kendatipun begitu, praktik pengayauan di Kalimantan telah menimbulkan stigma akan bengisnya suku-suku di Kalimantan selama bertahun-tahun.

Bukti akan praktik itu sendiri kini dapat ‘dinikmati’ para wisatawan di rumah adat suku di Kalimantan.

Di rumah-rumah adat itu para wisatawan akan mendapati beberapa tengkorak yang tergantung di atap.

Bahkan hingga sekarang, beberapa komunitas desa setempat masik merawat dan menjaga kepala-kepala yang telah ditinggalkan oleh para leluhurnya.

Iban

Iban merupakan penduduk asli Sarawak dan kelompok etnis dominan yanga ada di Borneo Malaysia.

Di Sarawak populasi mereka mencapai 30 persen, selain itu Iban juga tersebar di beberapa daerah di Indonesia dan Brunei.

Pada masa kolonialisme penduduk Iban dikenal sebagai Dayak Laut.

Penduduk Iban dikeal sebagai pemburu kepala yang paling ditakuti di Kalimantan.

Diyakini nanyak suku-suku dari negara-negara yang bersebelahan menjadi korban dari perang brutal dan berdarah melawan orang-orang Iban.

Membawa pulang dan mengumpulkan kepala musush adalah bukti kejantanan para lelaki orang-orang Iban.

Salah satu suku Iban

Salah satu suku Iban (Ambar Purwaningrum)

Mereka percaya setiap nyawa kepala yang mereka potong akan memberikan roh yang membuat mereka lebih kuat.

Praktik ini sempat terhenti saat kepemimpinan Sir james Brooke dari Inggris tahun 1800.

Namun saat jaman pendudukan Jepang praktik ini dihidupkan kembali.

Bukti akan budaya ini selain ada pada tengkorak yang tergantung ada juga pada garis berlekuk di punggung tangan yang dimiliki oleh pria Iban yang tua.

Garis lekuk itu menunjukkan bahwa pria Iban tersebut telah membunuh atau memotong kepala seseorang.

Murut

Sama halnya dengan suku Iban, suku Murutpun ditakuti karena menjalankan tradisi pengayauan.

Setelah masuk agama samawi, yakni Islam dan Kristen, serta larangan dari kependudukan Inggris praktik ini telah dihilangkan.

Suku Murut merupakan kelompok terakhir di Sabah yang menghapuskan praktik pengayauan.

Bagi orang-orang Murut ritual ini sangat penting bahkan dianggap bisa melindungi desa mereka dari musuh yang menyerang.

Selai itu ritual ini juga merupakan salah satu syarat seorang pria untuk bisa menikah.

Seringkali mereka yang tak bisa menyerahkan kepala seseorang akan dijauhi dikelompoknya.

Kadazan

Untuk suku Kadazan, ritual ini lebih mengarah pada praktik spiritualitas.

kepala yang berhasil mereka kumpulkan adalah sebuah bukti kemenangan perang.

Para prajurit muda Kadazan akan memenggal kepala seseorang untuk mempertahankan semangatnya bertempur.

Mereka percaya jika semangat ini terus dijaga maka daerah tempat mereka tinggal akan terjauh dari bencana.

 

 

 

Sumber : Grid.ID

 

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY